Selasa, 19 Agustus 2014

THE EXPENDABLES 3 (2014) REVIEW : THE (WRINKLED) MUSCLE’S SHOW


Sylvester Stallone memang berhasil dalam mengumpulkan para aktor laga dan melakukan sedikit nostalgia-nya di sebuah film. The Expendables menjadi satu proyek yang akan dipenuhi oleh para aktor film laga berbadan gempal meskipun para aktor sudah tidak muda lagi. Sayang, seri pertama dari film penuh otot ini harus menuai kritik negatif dari para kritikus film. Sylvester Stallone pun menyerahkan kursi sutradara kepada Simon West yang secara mengagetkan memberikan dosis Fun yang menyegarkan film aksi ini.

Maka, Sylvester Stallone pun memanggil sebanyak mungkin aktor-aktor legendaris di film ketiganya ini. Dan kali ini, kursi sutradara jatuh kepada Patrick Hughes yang juga akan mengarahkan remake dari film aksi dengan martial art milik Indonesia, The Raid. Tentu, Sylvester Stallone tidak membiarkan anak bawang pada dunia perfilman ini sendirian. Karena masih ada campur tangan Sylvester Stallone untuk seri ketiganya kali ini. 


The Expendables 3 di mulai ketika Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee (Jason Statham), Gunner (Dolph Lundgren), dan Toll (Randy Couture) menyelamatkan Doc (Wesley Snipes) yang menjadi tahanan dan mengajaknya bergabung dengan The Expendables. Mereka pun mendapatkan misi untuk menangkap seorang penjual senjata dengan nama samaran. Sesaat ketika diketahui, penjahat itu adalah Conrad Stonebanks (Mel Gibson), teman Barney Ross.

Barney Ross pun mencoba segala cara untuk menangkap Conrad hingga akhirnya harus melukai anggota dari The Expendables. Hal tersebut membuat Barney Ross terpukul dan mengakhiri The Expendables untuk mencari tim baru karena dia sudah tidak mau melukai teman-teman mereka yang sudah dianggap keluarga. Dengan tim baru, Barney Ross mencoba untuk menangkap Conrad Stonebanks. 


The Suppermasive with Nothing.

Sudah dua kali Sylvester Stallone dan teman-temannya mendapat kesempatan untuk ‘reuni’ di sebuah film laga. Setelah kesuksesannya menghibur para penontonnya di seri kedua, tentu film ini akan berlanjut di seri-seri berikutnya. Dan menunggu waktu hingga Sylvester Stallone dan tim akan lelah untuk mengembangkan ide cerita seperti apa lagi yang akan membuat penontonnya masih minat menonton film penuh laki-laki berotot besar ini.

Yang jelas, Hollywood tidak akan kehabisan ide bagaimana mempromosikan film The Expendables ini agar awet sebagai franchise film aksi. Ya, tentu daya tarik seri-seri ini adalah aktor-aktor lama yang legendaris dengan tujuan bernostalgia menonton aksi mereka di layar lebar –di action genre film, khususnya. Dan hal itu terjadi di The Expendables 3, di mana banyak sekali aktor-aktor laga legendaris kembali menunjukkan sinarnya untuk beradu akting kembali meskipun, kerutan di wajah mereka tidak menutupi usia mereka yang sudah tidak muda lagi.

Tentu, The Expendables 3 akan mampu menarik penontonnya untuk menyaksikan para aktor-aktor tua berada di satu frame film. Sayangnya, The Expendables 3 tidak mampu untuk memikat penontonnya dengan aksi penuh adrenalin yang memikat. The Expendables 3 mungkin terasa lebih kelam jika dibandingkan dengan dua seri sebelumnya. Ya, film ini memiliki tutur cerita yang lebih personal untuk karakter Barney Ross. 


Alih-alih untuk memberikan tutur cerita dan pendalaman karakter yang lebih, tetapi kurang bisa memberikan relation yang baik antara karakter dengan penontonnya. Arahan milik Patrick Hughes ini pun masih dikategorikan dalam kategori lemah. The Expendables 3 pun penuh dengan ledakan tetapi sayang ada sesuatu yang kurang saat adegan ledakan itu tersaji untuk menyenangkan para penontonnya. Kurang ada rasa ‘senang-senang’ yang ada di film keduanya.

Suspense dalam adegan aksi itu pun tidak ada. Sehingga, 120 menit film ini hanya dipenuhi dengan kebisingan, ledakan, dan api tipe film kelas B yang tidak ada rasa spesialnya sama sekali. Mungkin para penonton berumur akan merasakan referensi dari film-film aksi para aktor di film ini tetapi hal tersebut kurang terolah baik sehingga menjadi efek minor dalam action sequences-nya. Tidak layaknya seri kedua yang memiliki suspense dan unsur fun dengan dosis tinggi dengan referensi film-film para aktor yang terlibat di film ini sebagai pemanis. 


Pun terasa bahwa The Expendables 3 masih terasa episodik. Di seri ketiga ini terlihat bahwa tim penulis naskah ini menginginkan gabungan antara dua seri The Expendables sebelumnya bahkan ingin terlihat lebih baik dari dua seri sebelumnya. Unsur ‘serius’ yang menjadi trademark di seri sebelumnya ada di seri ini tetapi, juga tidak mau meninggalkan unsur ‘fun’ yang menjadi kelebihan dari seri keduanya. Semua di-push menjadi satu di film ketiganya dengan arahan yang minim oleh sang sutradara sehingga semuanya terasa begitu episodik dan beberapa akan hit and miss.

Sylvester Stallone pun mencoba untuk menggabungkan old-school action dengan espionage action yang akhirnya malah melunturkan jati diri The Expendables yang biasanya mengangkat rasa old-school film ini. Ya, mungkin Sylvester Stallone ingin melakukan inovasi agar filmnya ini memiliki cita rasa masa kini terlebih dengan adanya beberapa karakter dengan aktor-aktris muda. Sayangnya, kesan karakter berjiwa muda ini masih kurang memilik gaungnya ketimbang geng yang lebih tua. 


Sudah saatnya untuk Sylvester Stallone memberikan inovasi selain para aktor laga legendaris yang ter-assemble di dalam satu frame film. Karena, The Expendables 3 hanyalah penuh ledakan yang supermassive yang tak berarti dengan arahan minimalis milik Patrick Hughes. Mereka masih ingin bersenang-senang seperti remaja meskipun usia mereka tidak muda lagi. Dengan menjajarkan mereka dengan aktor-aktris muda baru tetapi hal tersebut tidak bisa memperkuat The Expendables 3 menjadi tontonan yang memikat hingga akhir. Well, This is just The Wrinkled-Muscle’s Show.  

1 komentar: