Minggu, 22 Juli 2018

HEREDITARY (2018) REVIEW : Munculkan Ketakutan Karena Asumsi


A24 sebagai rumah produksi selalu memberikan sebuah tontonan alternatif dengan performa yang menarik. Tentu saja di tahun ini, A24 tak ingin kehilangan momentum untuk bermain dalam genre horor yang sedang naik daun. Sudah pernah A24 menyajikan film bergenre serupa lewat The Witch, It Comes At Night, dan bisa dibilang A Ghost Story juga masuk di dalamnya. Tetapi, kali ini A24 menggaet sosok baru dalam mengarahkan sebuah film layar lebar.

Inilah Ari Aster yang ditunjuk untuk mengeluarkan sebuah karya unik dari A24 sebagai alternatif tontonan di genre horor ini. Hereditary menjadi sebuah film debut dari Ari Aster yang dibintangi oleh Toni Collette, Alex Wolff, Milly Shapiro, dan Gabriel Byrne sebagai satu keluarga. Penampilan Hereditary sebagai sebuah film telah dibuktikan lewat pemutaran terbatas di beberapa festival film yang ada. Banyak yang memberikan klaim bahwa Hereditary adalah sebuah film horor yang sangat menyeramkan tahun ini.

Dengan adanya klaim tersebut, tentu saja banyak orang akan berekspetasi besar terhadap Hereditary. Apalagi bagi para pecinta film horor, Hereditary tentu sangat patut untuk dinantikan. Tetapi, dengan adanya berbagai rekam jejak A24 dalam menyajikan sebuah film horor, tentu saja akan berbeda rasanya. Hereditary jelas akan memberikan sajian horor yang berbeda dibandingkan dengan film-film horor pada umumnya.


Benar saja, Hereditary bukan sekedar horor supernatural yang akan membuat penontonnya bergidik ngeri lewat penampakan makhluk astral. Gangguan yang dimunculkan oleh Ari Aster sebagai sutradara lebih ke pengalaman psikologis penontonnya. Tentu saja, penampakan yang muncul di dalam film Hereditary tak akan sebanyak film-film horor pada umumnya. Hal ini tentu saja membuat Hereditary tak akan bisa dicintai secara penuh bagi penonton awam.

Hereditary mungkin akan memiliki dampak besar bagi penonton yang memiliki kesempatan lebih mengenal film-film yang ada di genrenya. Tetapi, bagi penonton awam, Hereditary mungkin akan mengecewakan mereka yang lebih ingin melihat makhluk astral yang dieksploitasi di kamera apalagi bagi penonton Asia. Tetapi, Hereditary akan menakut-nakuti penontonnya lewat cara pendekatannya yang lebih psikologis tentang keluarga yang tak lagi menjalankan fungsi dan perannya masing-masing.


Ketika Ibu dari Annie (Toni Collette) meninggal, keluarga ini sedang dalam kondisi yang sedang berduka. Charlie (Milly Shapiro), anak dari Annie yang merasa dekat dengan sang nenek semakin merasa bahwa dirinya sendirian karena kondisi fisiknya yang sama sekali berbeda. Charlie juga memiliki seorang kakak laki-laki bernama Peter (Alex Wolff). Peter berusaha untuk menghibur Charlie agar tak lagi sedih saat mengingat kematian dari neneknya.

Kematian sang nenek ini tak hanya membuat keluarga satu ini merasa sedih tetapi juga merasakan hal-hal mencekam di dalam hidup mereka. Banyak hal-hal janggal terjadi di dalam kehidupan mereka. Meskipun satu sama lain sedang berusaha untuk menjalankan perannya masing-masing sebagai sebuah keluarga. Tetapi, hal ini tak membantu hubungan mereka satu sama lain yang sudah lama dingin. Banyak kejadian-kejadian mistis nan misterius yang harus mereka hadapi.


Sayangnya kejadian mistis yang terjadi di keluarga ini tak digambarkan dengan cara yang literal. Hereditary mencekam penontonnya lewat bagaimana secara pintar Ari Aster membangun sebuah suasana horor yang berbeda. Kekuatan Ari Aster mampu mengubah sebuah drama tentang dysfunctional family menjadi sebuah tekanan lahir dan batin penontonnya. Ditambah dengan sebuah misteri-misteri yang dapat dikategorikan sebagai film horor yang akan berdampak bagi psikis penontonnya.

Lalu yang muncul adalah ketakutan-ketakutan yang dibuat sendiri oleh penontonnya saat menonton Hereditary. Rasa khawatir, curiga, dan bertanya-tanya muncul dan mengusik pikiran penonton sehingga Hereditary bisa menakut-nakuti penontonnya lewat caranya membuat sebuah ketidakpastian. Inilah kunci yang bisa membuat Hereditary adalah sebuah film horor yang segar sekaligus berbeda dengan film horor lainnya.

Munculnya banyak asumsi saat Ari Aster memberikan adegan demi adegan inilah yang membuat muncul rasa tertekan bagi batin penonton saat menonton Hereditary. Kumunculan rasa depresi saat menyaksikan keluarga ini menghadapi masalah yang semakin besar lalu berakumulasi menjadi sebuah atmosfir mencekam yang sangat besar. Sehingga tak salah, menonton film ini akan menimbulkan rasa lelah lalu membekas ke benak penontonnya dengan jangka waktu yang lebih lama.


Asumsi yang menimbulkan ketakutan ini semakin kuat dengan performa dari para pemain yang ada di Hereditary. Toni Collette bisa memberikan performanya yang sangat kuat sehingga mampu memberikan efek mencekam bagi penontonnya. Pun dengan Alex Wolff yang bisa menjadi sosok aktor pendukung yang semakin memperkuat adegan penutup di dalam filmnya. Lewat performa mereka inilah, penonton akan semakin merasakan atmosfir yang misterius saat menonton Hereditary.

Hereditary mungkin bukan yang pertama menggunakan metode ini dalam genre horor. Tetapi, sebagai karya dari sutradara debut, Ari Aster bisa menggunakan Hereditary sebagai sebuah portofolio dalam karirnya. Juga, dengan naskah yang ditulisnya sendiri, Ari Aster membuktikan bahwa film horor yang baru saja dia kerjakan bukan sembarangan. Meskipun penyelesaiannya terlalu diceritakan secara eksplisit, tetapi ini menjadi jembatan bagi penonton awam untuk memahami Hereditary nantinya.


Hereditary sebagai sebuah film horor di tahun 2018 mampu memberikan sebuah sajian yang berbeda dan nafas segar bagi penikmat film horor. Dengan mengarahkan film ini, Ari Aster tentu akan dilirik dan dipercaya oleh rumah produksi lainnya untuk mengarahkan sebuah film horor atau bahkan genre lainnya. Meski tak bisa membuat suara bulat untuk mematenkan bahwa Hereditary adalah sebuah film yang horor. Tetapi nyatanya Hereditary akan mencekam para penonton yang sudah punya referensi lebih lewat asumsi yang dibuat sendiri tetapi lebih melekat.

1 komentar: