Selasa, 05 Februari 2019

GREEN BOOK (2018) REVIEW: Pernyataan Tentang Rasisme Yang Masih (dan Selalu) Ada


Tema-tema tentang minoritas, rasisme, menjadi tema yang sering diangkat oleh perfilman Hollywood. Bagaimana tema itu dikemas juga memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Mulai dari pendekatan drama yang menjunjung nilai sejarah tinggi tentang perbudakan orang-orang dengan kulit berwarna hingga dengan tema-tema komedi dan bahkan film manusia super. Tema seperti ini juga menjadi salah satu cara untuk sineas Hollywood memberikan pernyataan tentang realita yang ada.

Mungkin, sebagian dari penonton Indonesia tidak sebegitu paham atau dekat dengan tema-tema seperti ini. Tema seperti seakan menjadi sangat penting untuk selalu ada di perfilman Hollywood karena dalam realitanya, praktek tentang white supremacy dan rasisme akan selalu ada di sana. Mengetahui hal ini, Peter Farrelly mengangkat kisah tentang tema-tema itu ke dalam sebuah film terbarunya berjudul Green Book.

Film yang dibintangi oleh Viggo Mortensen dan Mahershala Ali ini memiliki tema-tema tentang rasisme yang terjadi di Amerika. Tetapi, siapa sangka, film-film yang disorot oleh juri-juri ajang penghargaan ini hadir dari tangan sutradara yang membuat film seperti There’s Something About Mary dan Dumb and Dumber. Bahkan, pernah menjadi salah satu bagian dari film Movie 43 ini. Green Book diangkat dari sebuah kisah nyata persahabatan 2 orang manusia yang terjebak dalam situasi rasisme yang ada.

 
Sebagai sebuah film yang disorot dalam ajang-ajang penghargaan bergengsi, Green Book tak memiliki tema yang benar-benar spesial. Temanya sering hadir dalam film-film Hollywood lainnya yang pernah disorot oleh ajang-ajang penghargaan. Tetapi, dengan tema yang sama, pengarahan dari Peter Farrelly inilah yang membuat Green Book menjadi sesuatu yang segar untuk ditonton. Dengan durasinya yang mencapai 130 menit, Green Book hadir tanpa pretensi apapun selain diterima oleh penonton secara universal.

Dengan temanya yang berat, Peter Farrelly membuat Green Book dengan pendekatan yang lebih mudah untuk diterima oleh penontonnya. Menggunakan genre komedinya untuk menumpulkan isunya yang terlalu sensitif dan berat itu. Bahkan, pengadeganan di dalam film ini tak ada kesan untuk dijadikan sebagai sebuah tontonan alternatif. Tetapi hal itu tidak ada salahnya, karena pengarahan dari Peter Farrelly ini berhasil meyakinkan penontonnya dan membuat Green Book menjadi sebuah sajian yang menghibur sekaligus emosional.


Kisah dengan tema yang berat ini dihantarkan oleh dua orang dengan latar belakangnya yang berbeda. Tony Vallelonga (Viggo Mortensen), seorang pria mantan pegawai bar yang sedang kehilangan pekerjaannya karena perilakunya yang tidak menyenangkan terhadap salah satu pelanggan bar tersebut. Tentu saja, kehilangan pekerjaan ini membuat Tony harus mencari pekerjaan lain agar kehidupannya bersama anak istri bisa tetap berjalan.

Hingga suatu ketika, dia mengetahui ada sebuah lowongan pekerjaan yang dirasa cocok untuknya. Dia harus menjadi seorang supir untuk seseorang bernama Dr. Don Shirley (Mahershala Ali), seorang pianis kulit hitam. Dia harus mengantarkan Dr. Don Shirley melakukan tur konsernya hingga waktu yang ditentukan. Ini tentu berat bagi Tony dan Dr. Don Shirley yang memiliki ego yang tinggi satu sama lain. Terlebih, kepada Tony yang memiliki problematika besar tentang menerima orang-orang berkulit hitam.


Banyak orang bilang bahwa melakukan sebuah perjalanan dengan seseorang akan mengubah pandangan kita terhadap orang tersebut. Entah akan berubah menjadi baik atau buruk itu tergantung nanti dalam prosesnya. Begitu pula yang terjadi dengan Green Book sebagai film yang bisa dibilang mengusung tema road film. Dengan temanya yang membahas tentang rasisme, Peter Farrelly berusaha mengajak penontonnya untuk berkompromi dan menyadari bahwa realita tentang rasisme ini ada di sekitar kita.

Meskipun setting tahun yang digunakan oleh film ini masih di zaman ketika semuanya serba polemik, tetapi dengan itulah Green Book seakan menyadarkan bahwa ada perjuangan besar yang sedang dilakukan oleh orang berkulit warna untuk mendapatkan haknya. Tetapi, perjuangan ini tak melulu digambarkan dengan mendayu-dayu atau sekedar untuk dikasihani. Green Book memilih untuk mendekatkannya dengan genre komedi agar pesan ini lebih mudah diterima.

Komedi menjadi salah satu cara untuk memperhalus pesan rasisme yang berat dan implisit di dalam Green Book agar dapat diterima oleh banyak penontonnya. Nick Vallelonga sebagai penulis naskah yang dibantu oleh Peter Farrelly dan juga Brian Currie ini sudah sangat rapi untuk menuliskan adegan demi adegan di dalam 130 menitnya. Sang sutradara yang juga ikut menulis naskahnya pun bisa menerjemahkan filmnya ke dalam layar dengan sangat kuat. Meski di beberapa bagian, beberapa adegannya masih diterjemahkan secara literal tetapi hal itu tak bermasalah.


Begitu pula dengan editing filmnya yang dinamis, membuat 130 menit di dalam film ini begitu terasa dinamis. Segala tensi, punchline di dalam komedinya, dan sisi emosionalnya begitu terjaga tanpa sedikitpun terasa menurun. Penonton seakan diajak dengan lebih dekat dengan karakter Tony dan Don Shirley yang semakin lama semakin mengalami perubahan dalam memandang sebuah fenomena sosial. Begitu pula dengan penonton yang sedang menonton Green Book yang berubah dalam memandang sebuah fenomena sosial ini.
 
Penonton yang sadar betul tentang karakter-karakter Green Book mungkin akan menemukan kegelisahan ketika menyaksikan film ini. Ketika karakter Tony Lip sebagai orang dengan harfiah berkulit putih menemukan keistimewaan dibandingkan dengan Don Shirley. Padahal jika diteliti lagi secara dialog dan adegan, ada tanda yang membuat penonton yang sadar betul tahu bahwa Tony Lip ini adalah seorang pria keturunan Italia.


Secara teoritikalnya, Italia pun bukan dihitung sebagai orang-orang kulit putih asli Amerika. Dirinya mendapatkan keistimewaan itu karena secara harfiah warna kulitnya bisa melebur jadi satu dengan yang lain. Melting pot inilah yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh karakter Tony sehingga isu tentang rasisme tak begitu menyerang banyak padanya dibandingkan dengan Don Shirley. Bahkan, karakter Tony pun digambarkan juga masih memiliki sikap rasis kepada semua sosok kulit hitam dalam hidupnya.

Tetapi, di satu adegan penting, Green Book tahu caranya untuk mematahkan kegelisahan dari penonton yang sadar betul akan hal itu. Adegan dengan polisi yang pada akhirnya mendapatkan imbas yang sama kepada karakter Tony. Sehingga, hal itu membuat Tony berubah pandangannya tentang isu rasisme yang terjadi di sekitarnya. Itulah kenapa Green Book menjadi sebuah karya yang penting yang secara perlahan tak hanya mengubah pandangan karakter-karakternya saja dalam menghadapi sebuah isu sosial tertentu, tetapi juga bagi penonton agar bisa memahami sesuatu dengan lebih dalam lagi.


Di dalam film Green Book, tak lagi ada kulit putih yang berusaha menjadi sosok heroik untuk membantu para kulit warna menghadapi isu ini. Don Shirley dan Tony Lip, keduanya adalah sosok non kulit putih yang saling membantu satu sama lain. Mereka saling menguatkan, saling mengingatkan, menjadi sosok sahabat yang memiliki love-hate relationship tetapi tak bisa terpisahkan. Hidup dalam keberagaman memang seperti hubungan Don Shirley dan Tony Lip, memang berbeda dan sesekali mengalami konflik. Tetapi ketika saling dibutuhkan, mereka hadir untuk saling ada dan menguatkan. Membayangkannya saja sudah indah, bukan?

1 komentar:

  1. so if i'm not black enough and if i'm not white enough. what am I?


    that scene make me speechless :(

    BalasHapus