Minggu, 24 Februari 2013

REVIEW - Rectoverso

Membuat film omnibus memang susah-susah gampang. Banyak sekali film dari Indonesia maupun Luar Negeri yang bisa dikategorikan kurang bagus dalam membungkus beberapa cerita menjadi satu kesatuan yang utuh. Kali ini dari banyaknya sutradara Marcella Zalianty, Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, serta Happy Salma mengangkat sebuah buku kumpul cerpen milik Dee Lestari yang berjudul Rectoverso. Bagaimana dengan hasilnya?

Sepertinya di review saya kali ini, saya akan menjabarkan satu persatu cerita di Rectoverso. Ada 5 Cerita di film ini dengan 5 Sutradara yang berbeda. Sepertinya saya akan mengurutkan satu-satu mulai dari segmen yang menurut saya lemah hingga segmen yang paling kuat di film ini. Dan inilaah.... Here We Go....
Director : Happy Salma
Writer : Key Mangunsong
Menceritakan tentang seorang wanita bernama Al yang sedang jatuh cinta dengan orang bernama Raga yang bertemu lewat akun mailing list. Mereka banyak menceritakan sesuatu hal. Tetapi, Al hanya bisa mencintai Raga lewat punggungnya saja. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia hanya bisa mengagumi sesosok Raga meski dia bertemu langsung dengannya. 
http://klimg.com/kapanlagi.com/g/foto_film_hanya_isyarat_-_rectoverso/p/hanya_isyarat-20121226-001-rita.jpg 
Mencintai orang diam-diam, bertepuk sebelah tangan, sebenarnya mempunyai sebuah premis yang menarik. Hanya saja, segmen ini adalah segmen yang ingin saya skip. Kenapa? entah, beberapa bagian membacakan kata-kata puitis indah nan menyentuh rasanya gagal di segmen ini. Beberapa Intonasi puisi yang monoton layaknya Film 5 Cm alhasil puisi di film ini beberapa kali terdengar aneh. Yah, Setidaknya tak separah 5 Cm. Kata-kata puitis yang disampaikan dan terkesan seperti membaca sebuah sajak yang mungkin membuat puisi disini terdengar aneh. Segmen film ini yang paling tak bernyawa menurut saya. Meskipun terkadang beberapa bagian bakal sangat menohok bagi orang yang jatuh cinta diam-diam. Rasanya Fauzi Baadila di film ini aktingnya terkesan santai, tak serius, begitu pula dengan pemeran utamanya Amanda Soekasah. Segmen ini pun menjadi tak kuat lantaran beberapa eksekusi akting yang rasanya bisa dibilang kurang. Menjadi sebuah cerita "cinta yang tak terucap" yang kurang terucap dengan baik di sebuah motion picture. Serta menjadi sebuah bagian Rectoverso yang paling tidak memorable ketimbang lainnya.
 

Director : Rachel Maryam
Writer : Indra Herlambang


Menceritakan tentang seseorang yang bernama Senja (Asmirandah) dia mempunyai sebuah klub Firasat dan bertemu dengan seorang bernama Panca (Dwi Sasono). Senja yang mempunyai firasat buruk tentang Panca ketika Panca akan pulang ke Padang untuk menjenguk ibunya. Senja pun melarang Panca pergi kesana.
smallthumb_vidIdFC_12102012_175725 
Apa yang ditawarkan oleh cerita di film ini bisa dikatakan film ini sangat Cliche dan yang paling cheesy di film Rectoverso. Yah, segmen ini adalah segmen memang lemah dibandingkan dengan yang lainnya. Asmirandah pun kurang begitu menjalin chemistry yang bagus dengan Dwi Sasono. Cerita yang dibangun pun kurang dibawakan dengan epic. Hanya beberapa balutan kata puitis yang indah yang dibawakan dengan pengucapan yang enak didengar yang setidaknya memperkuat film ini. Karakter central yaitu Asmirandah yang berperan sebagai Senja pun beruntung dibawakan dengan bagus olehnya. Serta beruntung, beberapa bagian sinematografi yang ditangkap begitu Indah dari berbagai sudut yang menentramkan jiwa juga menjadi nilai plus tersendiri. Oh ya, jangan lupakan Special Appearance dari Widyawati yang sangat keibuan sekali di film ini. Skrip yang ditulis oleh Indra Herlambang nampaknya kurang diperhatikan. Sehingga film ini nampak kurang bernyawa ketimbang lainnya. Meski diawal, segmen ini cukup menjanjikan. Tetapi, dengan penyelesaian yang mungkin cukup bisa ditebak serta terlalu flamboyan. Hasilnya segmen ini gagal tereksekusi dengan baik. Untungnya, buat saya segmen ini setidaknya menghibur.
 

 Director : Cathy Sharon 
Menceritakan tentang Taja (Yama Carlos) yang bertemu dengan seorang wanita cantik bernama Saras (Sophia Latjuba). Taja yang sempat melirik-lirik Saras, ternyata membuat Saras tertarik. Hasilnya mereka berhubungan. Keesokan harinya, mereka bertemu lagi di sebuah kafe. Mereka terjalin Cinta Satu Malam. Karena setelah itu, Taja tak menemukan sesosok Saras lagi. Pada akhirnya, Saras menjadi Calon Istri teman karibnya sendiri. 
http://selebuzz.com/images/rectoverso/rectoverso5.jpg 
Saya sebenarnya dilema harus menempatkan segmen ke nomor dua atau nomer tiga. Bisa dianggap Segmen ini dan Segmen yang akan muncul di nomor dua nanti mempunyai score yang tidak signifikan. Segmen ini sedikit dibawah dibandingkan segmen yang akan muncul di nomor dua nanti. Cicak Di Dinding, di eksekusi dengan sangat baik oleh Cathy Sharon. Terutaman akting dari Sophia Latjuba yang bisa menampilkan sesosok Saras yang naughty dan chemsitry yang epik dengan Yama Carlos yang menjelma menjadi Taja yang innocent kalo bisa dibilang. Skrip yang tersusun rapi dengan beberapa penyutradaraan dari Cathy Sharon yang tahu betul untuk membawa tema ini menjadi sebuah Segmen yang menurut saya kuat dengan penceritaan yang cukup unik serta beberapa humor-humor cerdas yang tak terkesan Basi. Sebuah Tema tentang cinta yang lebih glamor disampaikan dengan cara yang baik. Segmen ini pun tak terkesan glamour penuh hura-hura seperti yang ditampilkan beberapa film Indonesia dengan tema sejenis. Cicak Di Dinding benar-benar tertancap di dinding hati saya. 
Director : Olga Lidya
Writers : Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria
Menceritakan tentang Amanda (Acha Septriasa) yang berteman baik dengan Reggie (Indra Birowo). Reggie selalu berada di samping Amanda jika Amanda sedang mengalami kesulitan dengan pacar-pacarnya. Reggie ternyata juga diam-diam menaruh perasaan lebih ke Amanda. Meski Amanda sepertinya sudah nyaman dengan Reggie sebagai sahabat yang selalu menolongnya setiap saat. 
http://4.bp.blogspot.com/-XnRKENW8HTY/UR4VxjlZ6JI/AAAAAAAAATo/XyKAzp90zGQ/s1600/rectoverso8.jpg 
Segmen ini sebenarnya mempunyai cerita yang simple serta formulaic. Tetapi, entah kenapa saya begitu menyukai segmen ini. Beberapa adegan terjabarkan dengan jelas dengan alur maju mundur yang cukup unik. Skrip milik Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria cukup tertata meski penyelesaian film ini sedikit kendor di beberapa bagian. Tetapi untungnya Olga Lydia menggawangi segmen ini dengan baik dan benar sehingga segmen ini tak terjerumus segmen yang berantakan. Segmen ini adalah segmen paling menghibur dari semua segmen. Dengan beberapa humor-humor yang bisa membuat kita tertawa dan juga tetap terfokus dengan cerita cintanya yang juga menawan dan kuat membuat saya menaruh segmen menjadi nomor dua. Sepertinya semenjak Test Pack, Acha Septriasa tahu benar berakting. Akting dia kali ini juga tak kalah dengan aktingnya di Test Pack. Natural sekali. Meski terkadang penggunaan mimik yang digunakan Acha sedikit berlebihan. Indra Birowo pun bisa menjadi karakter serius tak seterusnya cengengesan. Dia juga bisa membawakan peran menjadi seorang yang terkena momen "Friendzone tingkat Dewa" yang cukup bagus. Beberapa kali mimik seperti orang yang Ingin menyatakan perasaannya tetapi tertahan juga di ekspresikan dengan cukup baik. Sepertinya banyak sekali penonton yang terjebak di romansa dilema "friendzone" seperti ini. Maka inilah sebuah segmen yang mungkin menjadi sesuatu yang sentimentil bagi mayoritas penonton film ini. Dilema dengan egonya. Perasaan sayang yang harus ditutupi demi persahabatan yang sudah lama terjalin. Perasaan sayang yang lebih dari sayang kepada seorang sahabat



Director : Marcella Zalianty
Writer : Ve Handojo
Menceritakan tentang Abang (Lukman Sardi) yang memiliki keterbelakangan mental yang diam-diam menaruh hati kepada seseorang wanita penghuni kos milik ibunya yaitu Leia (Prisa Nasution). Tetapi, Leia tak tahu jika ternyata Abang mencintainya. Hingga pada suatu saat dia bertemu dengan Hans, adik dari Abang. Leia dan Hans pun menjalin suatu hubungan. Tetapi Bunda (Dewi Irawan) mengatakan bahwa dia harus menyembunyikan hubungan mereka dari Abang. 
http://klimg.com/kapanlagi.com/g/foto_adegan_film_malaikat_juga_tahu_-_rectoverso/p/malaikat_juga_tahu-20121226-002-rita.jpg 
Malaikat Juga Tahu siapa yang jadi Juaranya. Yah! Segmen ini benar-benar menguras emosi, perasaan, semua campur aduk menjadi satu. Dan ini menjadi segmen paling epic. Dan Inilah juaranya. Segmen Malaikat Juga Tahu ini benar-benar yang paling klimaks. Semua terpackage jadi satu. Sebuah jalinan cerita yang kuat serta solid disajikan dengan di sebuah motion picture yang Indah. Dengan penampilan epic dari Lukman Sardi yang memerankan Abang dengan begitu kuat. Lukman Sardi benar-benar total di segmen ini. Skrip milik Ve Handojo ini sepertinya tahu betul caranya menerjemahkan semua cerpen ini dengan bagus ke dalam sebuah film. Dengan arahan dari Marcella Zalianty yang sepertinya tak salah jika dia memilih Cerpen ini dan mengarahkan cerita kuat ini ke sebuah motion picture. Sebuah jalinan cerita yang kuat yang benar-benar membuat saya kehabisan kata-kata. Jalinan cerita yang mungkin menyentuh bagi para penontonnya. Begitu kuatnya sehingga siapa saja bakal dengan gampang jatuh cinta dengan Segmen ini. Siapa saja bakal dengan gampang menitihkan air mata dengan pembawaan emosi cerita yang sangat mengoyak-ngoyak hati penontonnya. Saya pun akan menitihkan air mata ketika segmen bergulir dengan Indah di Rectoverso . Karena jalinan cerita segmen kuat sekali sehingga penonton akan mudah terbawa suasana yang dibawakan dengan baik oleh segmen ini. TWO THUMBS UP !
Rectoverso sepertinya bukan memberikan sebuah film yang diceritakan dengan penceritaan konklusi yang dijabarkan dengan jelas. Mungkin, Rectoverso ingin memberikan sebuah pemikiran bagi para penonton, Cerita mana yang sesuai dengan pengalaman pribadi para penontonnya. Cerita "Cinta yang tak terucap" mana yang pas dengan pengalaman pribadi penontonnya? Lalu sebuah penyelesaian atau konklusi yang seprti apakah yang akan terjadi di kehidupan pribadi penonton yang ceritanya mungkin pas dengan segmen-segmen yang ada di film Rectoverso?. Yah, Film ini bukan sekedar sebuah drama percintaan yang memberikan sesuatu yang terlalu flamboyan. Film ini adalah sebuah rangkaian kata-kata puisi yang sangat merobek hati penontonnya. Segmen di film ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Penceritaan setiap segmen yang dipecah-pecah dengan editing yang epic milik Cesa David Lukmansyah sehingga essence cerita masing-masing segmen di film ini tak hilang dan sepertinya mempunyai benang merah di setiap segmennya meskipun tak ada hubungan antar segmennya. Setiap perpindahan antar scene dari beberapa cerita yang berbeda tersusun rapi, tertata dan indah. Dengan Narasi pengantar yang juga mewakili setiap segmen di film ini. Sebenarnya Omnibus dengan cerita seperti ini banyak yang tereksekusi gagal contoh dalam negeri Hi5teria yang baru-baru ini. Bahkan Valentine's Day dan New Years Eve milik Gary Marshall pun gagal pengeksekusian dalam penceritaan yang ternyata saling sambung menyambung antar karakter yang sedikit membuat penonton bingung. Rectoverso pun sebenarnya tak punya benang merah antar karakter tetapi semua itu dibuat ada di film ini dan dikategorikan berhasil memberikan satu kesatuan 5 cerita berbeda di satu film dan itulah salah satu keunggulan film ini. Kelemahan film ini terletak di Sound Editing dan Mixing yang kacau dibeberapa bagian. Lipsync yang sangat kentara di film ini memberikan minus di film yang sudah terbungkus apik ini. Terutama di segmen Hanya Isyarat dimana Audio di segmen itu sangat terlihat kacau. Beruntung sinematografi apik milik Yadi Sugandi juga menjadi salah satu kelebihan film ini. Semua angle pemandangan yang tershoot dengan epic sehingga juga mendukung penceritaan cerita cinta yang romantis dengan dukungan angle yang menawan. Jangan lupakan soundtrack di film ini yang juga semakin memperkuat semuanya. Lagu "Malaikat Juga Tahu" yang di remake oleh Glenn Fredly membuat klimaks dari semua segmen di film ini semakin terasa. Serta suara manis milik Raisa di lagu Firasat juga membangun semua suasana romantis di film ini.
Overall, Rectoverso adalah sebuah Omnibus milik Indonesia yang memiliki sebuah penceritaan yang bagus. Dengan editing yang tentunya epic. Serta beberapa soundtrack yang membuat film ini menohok para penontonnya di bagian scene yang mungkin sentimentil.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar