Jumat, 24 Februari 2017

BUKA’AN 8 (2017) REVIEW : Kapsul Waktu Penuh Kritik Sosial


Di setiap tahunnya, Angga Dwimas Sasongko akan selalu melahirkan sebuah film dengan kemasan yang berbeda. Kekuatan Angga Dwimas Sasongko dalam mengarahkan film-filmnya adalah ketika dia berhasil membuat karakternya sangat terkoneksi dengan penontonnya. Mulai dari Hari Untuk Amanda hingga Surat Dari Praha, Angga Dwimas Sasongko berhasil memberikan intimasi yang membuat penonton memiliki kedekatan dan simpati kepada karakter-karakter dan problematika yang ada di dalam filmnya.

Di tahun 2017 ini, Angga Dwimas Sasongko kembali menyuguhkan karya terbarunya. Proyek film besutannya kali ini bekerjasama dengan Salman Aristo sebagai penulis naskah. Film terbarunya ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan aktris pendatang baru, Lala Karmela. Angga Dwimas Sasongko mendedikasikan film ini sebagai bentuk kapsul waktu anak pertamanya. Kali ini, Angga Dwimas Sasong bermain dalam genre drama komedi lewat Buka’an 8.

Sebuah kapsul waktu untuk anak dari Angga Dwimas Sasongko, jelas membuat film terbarunya ini akan terasa sangat personal. Akan banyak referensi dan pengalaman pribadi dari sang sutradara yang mempengaruhi kemasan dari Buka’an 8. Meski film ini punya tujuan personal, tetapi Angga Dwimas Sasongko membuat Buka’an 8 dengan mudah dinikmati secara universal. Buka’an 8 bukan sekedar sebuah drama komedi yang dapat membuat penontonnya terhibur, tetapi juga penuh akan komedi satir yang emosional karena dibuat dengan hati yang besar.


Ada banyak isu yang berusaha disampaikan oleh Angga Dwimas Sasongko saat mengarahkan Buka’an 8. Lewat film ini, sang sutradara berusaha memberikan informasi dan pengertian tentang isu menjadi orang tua yang penuh dengan tanggung jawab. Belum lagi isu-isu sosial dan politik lainnya yang disematkan oleh setiap karakternya. Film Buka’an 8 memang akan terasa penuh akan tujuan-tujuan yang pretensius, tetapi Salman Aristo sebagai penulis naskah berhasil memberikan porsi yang baik sehingga semua isu itu terasa seimbang.

Buka’an 8 bertumpu pada cerita tentang satu titik kejadian yang terjadi pada karakternya, bukan berusaha mengenalkan siapa Alam dan Mia secara runtut dari awal hingga akhir. Berangkat akan satu premis yang sederhana dan satu titik kejadian dalam hidup mereka, Angga Dwimas Sasongko sangat berhasil membuat konflik dan setiap karakternya begitu kaya. Penonton pun dengan mudah menaruh simpati kepada Alam dan Mia dan problematikanya menantikan anak pertama. 


Problematika film ini sederhana, menceritakan bagaimana Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela) yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Tetapi, proses adminitrasi di rumah sakit tak semudah dan baik-baik saja seperti yang dikira oleh Alam. Kendala ada pada biaya administrasi Rumah Sakit yang kurang. Alam pun memutar otak untuk mencari sisa uang agar Mia dapat melahirkan dengan perawatan yang layak.

Konflik ini sudah terjadi di berbagai kalangan, tetapi yang menjadi berbeda adalah sosok Alam yang unik. Dia adalah selebtwit yang memiliki banyak followers di sosial media. Tak berhenti di sana, Alam sering melakukan perang opini di sosial terbuka yang membuat dirinya semakin mendapat masalah dengan opininya. Inilah yang membuat proses menantikan kelahiran anak pertama keluarga Alam dan Mia menjadi berbeda. 


Dengan menekankan pada konflik keluarga yang rumit ini, akan terasa terlalu berat apabila Buka’an 8 malah dikemas terlalu serius. Angga Dwimas Sasongko menyiasatinya dengan mengemas Buka’an 8 menjadi film komedi. Film ini penuh akan misi untuk memberikan kritik sosial yang ada di sekitar masyarakat. Buka’an 8 membangun relevansi antara karakter fiksi dengan realita sosial yang ada. Sehingga, sang sutradara mengajak penontonnya untuk bersama-sama menertawakan problematika sosial yang sebenarnya mereka jalani.

Angga Dwimas Sasongko tahu benar atas segala konflik di dalam Buka’an 8 dan berhasil diterjemahkan lewat naskah yang disusun begitu rapi dan detil oleh Salman Aristo. Keduanya berhasil memberikan sebuah kolaborasi yang pintar. Penonton akan tahu bahwa film ini sangat personal yang didasari pengalaman pembuatnya. Bila dapat diibaratkan, Buka’an 8 adalah anak dari Angga Dwimas Sasongko yang dirawat penuh dengan kasih dan penuh tanggung jawab.

Dengan problematika dan kritikan sosial yang pretensius itu, Angga Dwimas Sasongko tak menyampaikannya dengan menggebu-gebu. Angga Dwimas Sasongko menuturkan setiap konflik ceritanya dengan begitu lembut. Sang sutradara berusaha untuk memberikan romantisasi atas konfliknya yang sudah terlalu berat ini. Dengan begitu, penonton akan dengan mudah menangkap maksud dan tujuan di dalam Buka’an 8. Film ini tak akan menjadi personal bagi pembuatnya, tetapi juga bagi siapa saja yang menontonnya.  


Buka’an 8 sebenarnya sebuah surat cinta kepada masyarakat yang menganggap bahwa menikah adalah jawaban atas segala masalah kehidupan satu individu yang bertambah berat. Buka’an 8 membuka fakta bahwa sebenarnya menikah pun akan membuat tanggung jawab akan semakin besar. Keluarga bukan tentang satu individu dengan problematikanya, tetapi tentang sekelompok individu yang memiliki masalah masing-masing. Butuh kepala dingin agar dapat mendapatkan solusi atas setiap masalah yang akan mereka hadapi.

Nilai tentang Tanggung jawab inilah yang berusaha ditekankan di dalam film Buka’an 8. Mulai dari tanggung jawab menjadi kepala keluarga, hingga bertanggung jawab dalam opini yang disampaikan. Entah opini tersebut dilayangkan secara verbal atau pun di ruang publik yang berpindah ke sosial media. Poin ini dilekatkan pada karakter Alam yang meskipun tak perlu kilas balik latar belakang ceritanya, akan terasa bagaimana tranformasi Alam dalam mengemban tanggung jawabnya.

Tak hanya kolaborasi Angga Dwimas Sasongko dan Salman Aristo saja yang bersinergi, tetapi juga performa dari Chicco Jerikho dan Lala Karmela. Mereka dapat menumbuhkan ikatan kuat yang meyakinkan penontonnya. Mereka bisa memperkuat setiap adegan demi adegan dan ketika mencapai pada adegan kunci, penonton bisa merasakan emosinya. Belum lagi Dayu Wijanto dan Sarah Sechan sebagai pemeran pembantu juga bisa mengiringi tanpa perlu mendominasi peran mereka. Semua pemainnya bersinergi dengan iringan musik yang tahu tempat. 


Maka dari itu, Buka’an 8 bukan hanya karya personal dari Angga Dwimas Sasongko tetapi juga mampu membuat karyanya ini terasa personal bagi siapa saja yang menontonnya. Meskipun personal, film ini mampu memberikan kritik sosial yang bersinergi dengan baik. Buka’an 8 penuh akan misi tentang banyak hal pretensius yang bagusnya bisa berjalan seimbang dan tak menggebu-gebu. Ada penuturan yang lembut layaknya seorang ayah yang menasihati anaknya di dalam film. Dengan penulisan naskah Salman Aristo yang detil dan pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang kuat,  Buka’an 8 adalah sebuah opini dari Angga Dwimas Sasongko tentang tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan. Sebuah kapsul waktu yang didedikasikan kepada para buah hati yang sangat emosional. Luar biasa!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar