Senin, 11 Desember 2017

POSESIF (2017) REVIEW : Realita Lain dalam Kisah Cinta Remaja


Film remaja Indonesia di tahun ini mulai memiliki berbagai macam keberagaman mulai dari tema hingga kemasan. Posesif, salah satu film remaja tahun ini yang perlu disoroti bukan dari kontroversialnya saja bisa masuk ke nominasi FFI tahun ini. Perlu digarisbawahi pula bahwa film remaja ini datang dari sutradara yang jejak rekam filmnya memiliki pendekatan non-populer. Sehingga, kedatangan film ini bisa mencuri perhatian penontonnya.

Tentu banyak orang mungkin tak lagi mengerti berbagai macam fenomena tentang kekerasaan dalam hubungan, gangguan kejiwaan, dan lain sebagainya. Film bisa jadi medium lain untuk memberikan pencerahan tentang fenomena-fenomena tertentu agar penontonnya tahu bahwa hal-hal seperti ini itu penting untuk diketahui. Posesif adalah salah satu film yang digunakan sebagai bentuk awareness. Dengan pemikiran terbuka, Posesif akan membuat kalian sadar bahwa kekerasan dalam berhubungan itu ada dan Anda perlu untuk merangkul para korbannya.

Edwin bekerjasama dengan Gina S. Noer dalam produksi naskah film Posesif ini. Dengan begitu, film ini memiliki misi untuk mengemas sebuah pesan tentang awareness mengenai kekerasan ini menjadi kemasan yang bisa dicerna. Mendekatkan problematika berhubungan itu dengan menilik lagi akarnya. Kisah-kisah seperti ini biasanya berawal mula dari kisah-kisah cinta monyet saat remaja. Kisah cinta remaja ini diwakili oleh dua pion utama Yudhis dan Lala, yang diperankan oleh Putri Marino dan Adipati Dolken.


Sehingga, inilah kisah Lala (Putri Marino) seorang atlet lompat indah yang sedang berkarir cemerlang. Dipuja oleh seluruh warga sekolah menengah atas tempatnya menuntut ilmu. Tetapi, Lala tetaplah seorang remaja yang ingin merasakan jatuh cinta. Bertemulah Lala dengan Yudhis (Adipati Dolken) yang ternyata diam-diam mengagumi Lala. Yudhis mencintai Lala dengan sepenuh hati dan jiwanya. Seluruh hidupnya pun didedikasikan untuk Lala.

Yudhis adalah pacar pertama Lala dan dia sangat menikmati setiap waktu bersama Yudhis setiap hari. Begitu pula dengan Yudhis yang benar-benar mencintai Lala hingga tak ada sedikit saja ruang untuk Lala bersama dengan yang lain. Hubungan mereka lambat laun menjadi tak sehat karena Yudhis sangat protektif terhadap Lala berkaitan dengan apapun. Hubungan Lala dan Yudhis penuh dengan naik dan turun, tetapi Lala merasa terjebak dengan Yudhis.


Jika kisah cinta SMA biasanya memiliki penggambaran yang manis di dalam film-film manapun, Edwin mengambil sudut pandang lain yang berbeda. Inilah sebuah realita lain tentang kisah romantis muda-mudi yang mungkin hanya ada dalam porsi yang sedikit, tetapi perlu untuk diketahui oleh semua orang. Edwin berusaha untuk mengemasnya dengan penuturan yang ringan, dapat diakses oleh siapapun, tetapi tak melupakan bagaimana konflik yang ditawarkan di dalam filmnya dalah isu yang perlu untuk diangkat.

Edwin bisa berkompromi dengan rekam jejak filmnya terdahulu bahwa dirinya mampu dan berhasil keluar dari zona nyamannya yang biasa mengemas film dengan penuturan yang non-populer. Tetapi, bukan berarti Posesif menghilangkan keseluruhan jiwa dari Edwin sebagai sutradara. Masih ada beberapa permainan emosi yang lebih subtil di dalam adegannya yang mampu memberikan nyawa lebih dan berakumulasi sehingga menjadi sajian yang sangat emosional.

Meski isunya yang terkesan ambisius dan berbeda, tetapi Posesif hadir dengan caranya yang sederhana. Bermimikri menjadi sesuatu yang ringan, sesekali punya keklisean remaja masa kini untuk mempermanis suasana filmnya yang memiliki dasar sebagai sebuah film drama romantis. Tetapi, juga berani untuk memberikan sebuah sub genre yang terpadu dengan genre utamanya. Dua genre yang dipadukan ini muncul sesuai dengan porsinya.


Edwin punya pengarahan yang kuat, sehingga penonton bisa ikut merasa simpati sekaligus gemas dengan kedua karakter utamanya. Naskah dari Gina S. Noer juga berhasil memberikan daya tarik yang lebih dinamis. Menyembunyikan konflik demi konflik hingga menutup filmnya dengan cara yang jauh lebih subtil tentu membutuhkan sebuah ketelitian dalam penulisannya. Meskipun, tak dapat dipungkiri bahwa Posesif memiliki beberapa inkonsistensi yang membuat tensinya berkurang.

Perlu untuk mendapat sorotan penting adalah dua pemain utamanya yang berhasil memperkuat atmosfir manis dan pahitnya kisah cinta Yudhis dan Lala. Putri Marino, seorang aktris pendatang baru ini berhasil mencuri perhatian karena performanya yang luar biasa. Juga, Adipati Dolken yang berhasil naik kelas dengan perannya sebagai Yudhis. Keduanya memiliki ikatan emosional yang kuat sehingga penonton pun bisa ikut relevan dengan setiap konflik keduanya meskipun konflik mereka jauh dari referensi penontonnya.



Maka, Posesif sebagai sebuah film punya misi khusus tentang sebuah pengenalan bagaimana orang-orang gangguan psikologis dan kekerasan dalam berhubungan itu nyata adanya. Bahkan, hal-hal itu kadang tertutupi dengan beberapa kejadian-kejadian yang sangat lumrah terjadi di sekitar kita seperti Yudhis dan Lala yang sedang asyik menjalin cinta mereka. Edwin berusaha menjadikan Posesif untuk sebuah medium agar semua orang tahu atas isu ini. Bagaimana caranya untuk menolong korban dalam kekerasan dan menyuruhnya untuk lari jika tak ada cara untuk mengenalkannya dengan cara universal. Ya, Posesif adalah alternatif cara di era sekarang. 

1 komentar: