Minggu, 28 Oktober 2018

FIRST MAN (2018) REVIEW : Pengalaman Bercerita dan Merasakan Kehidupan Neil Armstrong


Setelah memenangkan penghargaan sutradara terbaik di ajang Academy Awards berkat La La Land, Damien Chazelle pun menjadi salah satu sutradara muda yang menjanjikan. Film sebelumnya, Whiplash, juga berhasil masuk ke dalam beberapa nominasi di Academy Awards termasuk Best Picture. Berkat dua filmnya yang menarik inilah, karya selanjutnya dari Damien Chazelle tentu akan sangat menarik untuk diikuti agar tahu apa yang berusaha ditawarkan oleh Damien Chazelle nantinya.

Di karya terbarunya, Damien Chazelle berusaha untuk keluar dari zona nyamannya yang biasanya membahas masalah musik. Karyanya ini berusaha untuk mengarahkan sebuah cerita tentang seseorang yang dipercaya pertama kali mendaratkan diri ke bulan. First Man, karya selanjutnya dari Damien Chazelle ini menceritakan tentang Neil Armstrong yang diadaptasi dari memoirnya yang ditulis oleh James R. Hansen.

Damien Chazelle mengajak Josh Singer sebagai penulis naskah adaptasi yang juga pernah memenangkan Best Original Screenplay dari film Spotlight di ajang Academy Awards 2016 lalu. Sekali lagi, Damien Chazelle juga bekerjasama dengan Ryan Gosling untuk memerankan Neil Armstrong di dalam First Man. Juga, mengajak beberapa aktor lain seperti Claire Foy, Jason Clarke, dan Kyle Chandler. Tetapi, sorotan utama dari First Man ini sendiri adalah Damien Chazelle sebagai pengarah film yang sebenarnya sudah jauh dari zona nyamannya.


Dari sebuah film drama suspense hingga drama romance, Damien Chazelle membuktikan bahwa dirinya adalah sosok sutradara versatile yang mampu mengarahkan banyak genre. Meskipun, masih punya benang merah dalam elemen mesinnya. First Man seperti berusaha menggabungkan keduanya karena film terbarunya ini tak sekedar fokus untuk menceritakan bagaimana Neil Armstrong bisa mendaratkan dirinya ke bulan. First Man lebih dari itu, menceritakan tentang kehidupan pribadi Neil Armstrong dengan segala problematika dan gejolak batinnya menghadapi kehidupannya.

Damien Chazelle memiliki sensitivitas dalam pengarahannya sehingga berhasil memadukan First Man menjadi satu harmoni yang kuat dan emosional. First Man bisa menjadi sebuah film bertema space yang memiliki intensitas yang kuat. Tetapi ketika film ini berbicara tentang love and loss, First Man juga bisa memberikan sesuatu yang emosional dan begitu dekat dengan penontonnya. Damien Chazelle berhasil mengeluarkan emosi para pemainnya dengan dialog yang tak meluap-luap tetapi tatapan matanya bisa berbicara lebih dari semua dialognya.


Memang, First Man menceritakan tentang bagaimana Neil Armstrong (Ryan Gosling) yang sangat menyenangi profesinya sebagai seorang astronot. Neil Armstrong terlibat ambisi negaranya untuk bisa melakukan misi perjalanan mustahil ke bulan. Segala upaya Neil Armstrong dan NASA memang tak semuanya berjalan mulus. Banyak sekali jalan terjal yang harus dihadapi oleh Neil Armstrong. Mulai dari beberapa pesawat yang gagal, kecaman dari publik, hingga remehan banyak orang tentang misi ini.

Tak hanya problematika dalam menghadapi misinya yang berkali-kali gagal, Neil Armstrong juga menghadapi kehidupannya yang juga tak kalah terjal. Menikah dengan Janet (Claire Foy), Armstrong dikaruniai 3 anak. Tetapi, kehidupan Neil masih saja terpaku pada masa lalunya yang sangat mencintai anak perempuannya bernama Karen. Dengan banyaknya kehidupannya yang terjal, Janet tetap berusaha untuk mendampingi Neil Armstrong agar tetap kuat.


Pendekatan Damien Chazelle yang lebih personal kepada sosok Neil Armstrong ini diperkuat tak hanya dengan bagaimana dirinya mengemas cerita. Tetapi juga dengan pendekatan teknis yang lebih personal. Sinematografinya ditata untuk memunculkan kesan personal dan sangat intim lewat beberapa pengambilan gambar yang pan close up di wajah. Serta, pengadeganan yang sering memunculkan suasana yang sangat dilematis bagi karakter utamanya. Tak hanya untuk Neil Armstrong tetapi juga dengan anggota keluarganya yang lain seperti Janet.

Belum lagi diperkuat dengan tata suara yang dibuat secara teknis lebih kompleks untuk memberikan pengalaman di luar angkasa lewat layar perak. Tetapi, Damien Chazelle juga ingin membuat penonton semakin larut dengan problematika Neil Armstrong sehingga dibuat agar beberapa tata suara lebih menekankan sudut pandang orang pertama. Hal inilah yang membuat First Man tampil sangat luar biasa sebagai sebuah film biografi yang tak hanya menceritakan kisahnya tetapi juga ikut merasakan setiap perjalanan sosok yang diangkat.


Tentu saja, kekuatan dari First Man tak hanya datang dari pengarahan Damien Chazelle saja. Tetapi bagaimana pengarahan Damien Chazelle ini akan mempengaruhi performa Ryan Gosling dan Claire Foy yang luar biasa. Penonton akan merasakan gejolak-gejolak yang ada di dalam diri mereka tanpa perlu adegan yang meluap-luap. Cukup memunculkan ketenangan tetapi emosinya berakumulasi dan lebih berdampak di beberapa adegan kunci termasuk ending film ini.

Meski tak bermain di ranah musikal, Damien Chazelle tetap memberikan ambience di dalam First Man sehingga film ini terasa sangat dirinya. Mulai dari memasukkan lagu syahdu ke dalam adegannya, sedikit bermain dengan musik dalam menuturkan narasi, hingga pengadeganan di dalam endingnya yang akan membuat penontonnya berkata “ini Damien Chazelle sekali”. Belum lagi dipermanis dengan balutan musik dengan komposer favorit Damien Chazelle yaitu Justin Hurwitz yang semakin membuat perjalanan Neil Armstrong di dalam film First Man ini semakin indah.


Dengan kompleksitas teknis yang lebih besar terlebih penggunaan kamera IMAX dan perubahan genre di setiap filmnya, tentu saja First Man memberikan deklarasi bahwa Damien Chazelle adalah sutradara yang menjanjikan. Lewat First Man, Damien Chazelle tetap memiliki kekhasan dalam pengarahan dan juga berhasil mengulik cara lain untuk mengulik kisah seseorang. First Man bukan sekedar menceritakan, tetapi juga membuat penonton merasakan semua kegelisahan, kehilangan, dan rasa cinta Neil Armstrong terhadap hidupnya. Indah sekali!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar