Rabu, 30 Agustus 2017

CARS 3 (2017) REVIEW : Comeback Stories tentang Harapan


Cars, sebuah franchise film animasi milik Pixar Animation Studios ini menjadi sebuah franchise yang dikhawatirkan bagi penonton maupun fans. Hal ini dikarenakan filmnya yang pertama tak terlalu memberikan impresi yang berlebih dibandingkan dengan karya-karya milik Pixar lainnya. Tetapi, hal itu tidak diindahkan oleh para petinggi Pixar karena hasil penjualan merchandise dari film ini ternyata laris manis di pasaran. Oleh karena itu, Pixar tetap mempertahankan sebuah franchise paling lemah di barisan karyanya.

Maka, datanglah Cars 2 yang membuat reputasi dari Pixar Animation Studios ini menurun karena filmnya tak bisa memuaskan para penontonnya, terlebih kepada para kritikus. Hal ini menjadi turning point bagi Pixar untuk kembali membangun reputasinya sebagai sebuah rumah produksi film animasi yang berbeda kepada penontonnya. Cukup mengagetkan ketika Pixar Animation Studios kembali memberikan kesempatan untuk franchise ini.

Setelah John Lasseter yang menangani kedua film dari Lightning McQueen ini, di film ketiga posisi itu berganti ke Brian Fee. Cars 3 ini adalah film debutnya sebagai seorang sutradara, setelah lama Brian Fee berkecimpung sebagai art department di dalam film-film Pixar Animation Studios. Bintang-bintang lama dari franchise ini tentu kembali menyemarakkan Cars 3 seperti Owen Wilson, Bonnie Hunt, dan Larry The Cable Guy. Tetapi juga ada nama-nama baru yang menghidupkan karakter baru di film Cars 3. 


Melihat dari trailer film ketiganya, Pixar Animation Studios terlihat berusaha untuk lebih serius dalam menggarap Cars 3. Setidaknya, franchise ini kembali ke akarnya dengan memberikan sebuah cerita yang lebih personal kepada karakter Lightning McQueen. Maka, hadirlah Cars 3 sebagai cara bagi Pixar Animation Studios untuk memperbaiki kesalahan di franchise-nya. Beruntungnya, itikad baik ini diartikan sangat baik dan diterjemahkan dengan baik dalam Cars 3.

Brian Fee mengubah Cars 3 menjadi sebuah film yang akan mengikat penontonnya. Dengan durasinya yang mencapai 109 menit, Cars 3 berhasil menjadi comeback stories dengan performa yang cukup solid. Cars 3 membicarakan banyak sekali topik tentang sebuah warisan yang tak melulu berurusan dengan harta, tetapi juga tentang mewariskan kepercayaan. Brian Fee melekatkan topik itu kepada karakter Lightning McQueen yang juga sedang mencari jati dirinya yang telah melewati banyak zaman.


Inilah kisah dari Lightning McQueen (Owen Wilson) yang tak lagi menjadi yang tercepat di lintasan balapannya. Kedigdayaannya sebagai pembalap ternyata akan dengan mudah direbut oleh para pendatang baru yang memiliki terobosan-terobosan baru dengan teknologinya. Datanglah Jackson Storm (Armie Hammer) sebagai pembalap baru yang dapat menyaingi Lightning McQueen dan selalu menjadi nomor satu di setiap perlombaan.

Hingga suatu ketika, Lightning McQueen tertimpa sebuah musibah yang menyebabkan dia harus istirahat total dari perlombaan. Di saat dirinya sudah sembuh, Lightning McQueen diangkat lagi menjadi seorang pembalap oleh seseorang yang menjadi sponsornya. Lightning McQueen pun berusaha bangkit lagi dengan latihan yang diarahkan oleh Cruz Ramirez (Cristela Alonzo). Lightning McQueen berusaha beradaptasi dengan teknologi-teknologi baru yang dapat menyokong perlombaannya. 


Paska Cars 2 yang kacau balau, tentu franchise satu ini tidak diharapkan hadir di layar lebar. Tetapi, dengan kemasan yang diramu begitu solid oleh Brian Fee di Cars 3, tentu setidaknya ada sebuah pengampunan dari penonton Pixar kepada franchise ini. Memang tidak ada kisah yang begitu baru yang berusaha ditawarkan oleh Cars 3. Tetapi, ramuannya dalam mengangkat cerita tentang warisan dan comeback stories oleh sosok yang bisa dibilang legendaris ini berhasil membuat penontonnya menikmati 109 menit film ini.

Cars 3 berusaha untuk mengembalikan franchise satu ini pada awal mula kemasannya. Tak berusaha untuk terlalu bersenang-senang, memiliki plot cerita yang lebih utuh, dan menanamkan nilai-nilai yang cukup besar agar bisa dinikmati oleh segala usia. Sehingga, Cars 3 menjadi sebuah film animasi yang juga menjadi sebuah pembelajaran dalam proses pembentukan karakter bagi siapa saja yang menonton film ini. Begitulah yang diinginkan oleh sang pembuat kepada penonton ketika menyaksikan Cars 3 di bioskop. 


Memang, secara cerita Cars 3 memberikan pendekatan yang sedikit lebih dewasa. Tetapi, dengan adanya hal ini pada nantinya menjadi poin menarik oleh para orang tua untuk berdiskusi dengan anaknya. Ada banyak sekali pembelajaran di dalam filmnya tentang membentuk karakter dan memaksimalkan potensi diri dan referensi itu dilekatkan pada karakter Cruz. Inilah yang membuat Cars 3 terasa begitu spesial. Sebuah film keluarga yang tak sekedar lalu lalang sebagai tempat menghabiskan waktu saja tetapi ada pula poin untuk dibicarakan dengan anggota keluarga lainnya.

Tetapi, tentu saja Brian Fee sebagai sutradara perlu mendapat apresiasi. Tanpa arahannya yang sentimentil, Cars 3 tak bisa begitu saja mengeluarkan momen-momen magisnya untuk bisa merebut hati penontonnya. Arahan Brian Fee yang sentimentil ini berhasil memunculkan kehangatan di beberapa adegannya sekaligus emosional. Tetapi, tak melupakan unsur senang-senang yang diselipkan di dalamnya seperti adegan balapan atau pun kelakar-kelakar lucu yang perlu muncul agar bisa dinikmati oleh penonton usia belia. 


Hingga tiba waktunya, Cars 3 membicarakan tentang hubungan orang tua dan generasi penerusnya yang mungkin sesekali dibicarakan secara intim di antara mereka. Pembicaraan tentang sebuah harapan generasi millenium terhadap generasi masa kini untuk melanjutkan pekerjaan-pekerjaannya agar bisa terus beradaptasi dan tak punah. Ya, Cars 3 membicarakan hal tersebut dengan begitu emosional. Membuat penontonnya tersenyum lebar dengan hati yang begitu hangat saat credit title bergulir nantinya. Cars 3 kembali dengan kemasan yang jauh lebih kuat dan menjadi yang terbaik di dalam serinya. 

2 komentar: