Senin, 15 Januari 2018

INSIDIOUS : THE LAST KEY (2018) REVIEW : Trivia Kisah Elise dan Masa Lalunya


Franchise film horor satu ini memang sudah banyak mendapatkan antisipasi dari penontonnya. Sejak filmnya yang pertama, Insidious mendapatkan word of mouth yang sangat kuat. Tentu saja hal ini berpengaruh dengan bagaimana sang rumah produksi berperilaku untuk memberikan lampu hijau kepada film ini. Sukses secara finansial pun menjadi satu-satunya alasan kenapa Insidious masih bertahan meneruskan sisa-sisa warisan cerita yang bisa digunakan.

Meskipun kekuatan seri ini sudah melemah di seri ketiganya, nyatanya Insidious masih harus bangun dari tidur untuk membuat sebuah kisah baru. Maka, muncullah Insidious : The Last Key yang kali ini dibawahi oleh Sony Pictures dalam proses distribusinya. Pemegang kunci Insidious : The Last Key  ini diserahkan kepada Adam Robitel yang sudah pernah menangani sebuah film horor sebelumnya berjudul The Taking of Deborah Logan. Dibantu oleh Leigh Whannell yang sudah terbiasa menuliskan cerita-cerita dari Insidious pertama.

Bisa jadi orang sudah lelah mengikuti seri dari franchise ini, tapi nyatanya Insidious sudah memiliki pamornya. Insidious : The Last Key akan dengan udah meraih banyak penonton di saat rilis tetapi bukan berarti hal tersebut akan dengan mudah merebut hati penontonnya. Insidious : The Last Key ini menunjukkan bahwa film ini sudah mulai tak menunjukkan taringnya sebagai film horor. Adam Robitel sebagai sutradara tak mampu membangkitkan amarah roh-roh jahat untuk sekali lagi menakut-nakuti penontonnya.


Problematika Insidious : The Last Key ini tak hanya sekedar tentang bagaimana caranya untuk menakut-nakuti penontonnya. Tetapi juga caranya untuk berusaha membuat penontonnya terjaga sepanjang durasi untuk ikut bersimpati dengan setiap karakter yang ada di dalamnya. Kali ini, fokus utama dari film ini adalah kisah tentang Elise, satu-satunya karakter yang masih bisa dikembangkan lagi untuk menjadi sebuah franchise yang baru.

Adam Robitel sangat berusaha menerjemahkan naskah yang ditulis oleh Leigh Whannell ke dalam layar. Hanya saja, usaha tersebut tak maksimal dan membuat Insidious : The Last Key sangat melelahkan untuk diikuti. Selama 104 menit, Insidious : The Last Key seperti menyaksikan kompilasi dua film pendek yang dipersatukan oleh satu karakter yang sama. Ada potensi menarik dalam kisahnya, tetapi sayangnya hal itu tak bisa berjalan dengan baik.


Menceritakan tentang Elise (Lin Shaye) yang harus menghadapi masa lalunya yang kelam. Dia mendapatkan sebuah telepon dari seseorang bernama Ted Garza (Kirk Acevedo) untuk membasmi hantu di rumahnya. Ternyata, rumah yang ditinggali oleh Ted Garza adalah rumah yang ditinggali oleh Elise dan keluarga saat masih kecil. Elise sudah tahu bahwa sejak kecil rumah yang ditinggali ini sudah berhantu yang membuat keluarganya dalam bahaya.

Elise berusaha untuk membasmi hantu yang ada di dalam rumah Ted Garza, tetapi apa yang dihadapi oleh Elise lebih dari itu. Ada hal lain yang harus berusaha diselesaikan oleh Elise selama sedang bertugas di rumah masa kecilnya. Oleh karena itu, Elise harus berkompromi dengan masa lalunya, menekan mimpi buruknya jauh-jauh agar bisa menghadapi makhluk astral yang sudah menganggunya dan keluarganya sejak kecil.



Insidious : The Last Key mungkin sedang berusaha untuk menggali lebih dalam siapa itu Elise, sosok yang selalu menjadi juru kunci di setiap seri Insidious. Tujuan inilah yang sedang berusaha dilakukan oleh Leigh Whannell saat menuliskan ceritanya di dalam naskah. Tetapi sayang, Adam Robitel tak bisa membuat penonton cukup bersimpati dengan cerita yang ada di Insidious : The Last Key. Jatuhnya, seri keempatnya ini terlihat hanya mementingkan untuk mengekspansi dunia franchise ini untuk demi kelangsungan seri-seri berikutnya.

Tak ada kekuatan sama sekali dalam pengarahannya, baik dalam porsi dramanya maupun dalam membangun teror. Insidious : The Last Key hanya berusaha memanipulasi penontonnya dengan berbagai scoring atau musik latar untuk memunculkan nuansanya. Ketika masuk ke bagian human drama, musik latarlah yang berusaha mengelabui penonton untuk ikut andil dalam kisah Elise. Begitu pula dalam bangunan tensi horornya.

Musik menjadi cara untuk mengelabui penonton dalam mendapatkan sensasi menonton film horor di dalam Insidious : The Last Key. Tak ada atmosfir horor yang bisa dibangun dengan baik oleh sang sutradara. Begitu pula dengan teknik jump scaresnya yang sudah tak lagi inovatif dan hanya mengulangi formula-formula yang usang. Teknik jump scares yang biasanya efektif ini pun tak digunakan terlalu banyak di dalam filmnya. Sehingga, penonton tak lagi bisa mendapatkan sensasi apapun saat menonton film ini.


Di dalam 104 menit filmnya, Insidious : The Last Key serasa terbagi menjadi dua babak yang berbeda. Konflik awal di dalam film ini mungkin ditujukan sebagai pengantar cerita yang memunculkan sebuah koneksi di akhir film. Nyatanya, ketika konflik awal tentang Ted Garza ini diselesaikan, fokus cerita tiba-tiba berpindah dan tak sesekali memiliki koneksi dengan cerita di awal film. Hal ini malah menjadi bumerang bagi filmnya, karena tanpa cerita di 1 jam pertama sebenarnya cerita di paruh kedua bisa berjalan sendirian.

Hal ini memunculkan sebuah isu di dalam Insidious : The Last Key bahwa film ini hanyalah sebagai sebuah fitur film tambahan untuk memperluas dunia milik Insidious. Sehingga, nantinya Insidious bisa menggunakan celah-celah yang ada untuk melanjutkan serinya meskipun penonton sudah mulai lelah. Terbukti dengan adanya adegan di akhir film Insidious : The Last Key yang memberikan sebuah koneksi ke seri-seri sebelumnya. Insidious : The Last Key hanyalah sebuah film trivia yang sebenarnya tidak ada pun juga tidak apa-apa.


1 komentar: