Minggu, 16 Maret 2014

NEED FOR SPEED (2014) REVIEW : RACE AND SPORT CARS'S SHOWROOM [WITH 3D REVIEW]

 
Mobil-mobil mewah, balapan liar, formual yang sepertinya sudah pernah ditemui di satu franchise Fast & Furious. Setelah Fast & Furious mulai memperpanjang serinya hingga seri nomor tujuh yang terpaksa diundur tahun depan, maka satu film dengan formula (yang hampir) sama dengan franchise tersebut diangkat ke permukaan. Adaptasi dari permainan virtual terkenal, Need For Speed hadir dengan berbagai tentang balapan mobil yang ditawarkan.

Need For Speed ditangani oleh Scott Waugh yang secara perdana mengarahkan filmnya sendiri kali ini. Begitupun pada departemen screenwriting yang juga ditangani oleh orang baru di dunia perfilman, George Gatins yang sama sekali belum memiliki track record dalam urusan menulis suatu naskah film. Bisa dibilang, satu resiko besar yang diambil oleh Dreamworks Pictures saat menggarap film ini dengan nama-nama baru. Terlebih, film adaptasi game belum pernah ada yang memuaskan para fans maupun kritikus film. 


Need For Speed memang tidak memiliki satu cerita basic yang bisa diambil. Maka, George Gatins harus memberikan satu universe baru untuk film adatasi game ini. Maka, Need For Speed mengembangkan satu cerita dari Tobey Marshall (Aaron Paul), seorang mantan pembalap NASCAR yang harus kehilangan sang Adik, Pete (Harrison Gilbertson) saat ditantang oleh Dino Brewster (Dominic Cooper) untuk balapan. Dino yang dengan sengaja menabrak mobil Pete hingga tak sengaja membuatnya tewas saat pertandingan.

Tobey ditangkap atas balapan liar tetapi Dino berhasil lolos dan menjual barang bukti tersebut. Setelah keluar dari penjara, Tobey merencanakan satu aksi balas dendam kepada Dino. Dengan ikut dalam pertandingan balapan liar yang diadakan oleh Monarch (Michael Keaton). Dino yang mulai gusar dengan adanya Tobey yang bisa mengancam dirinya ini, melakukan berbagai upaya untuk menyingkirkan Tobey dari pertandingan. 


Need For Speed, need to be more treat.

Berusaha untuk tidak membanding-bandingkan Need For Speed dengan franchise Fast & Furious. Karena bagaimana pun itu, Need For Speed jelas berbeda dengan franchise terkenal tersebut. Memang memiliki formula yang hampir sama di filmnya, tetapi bagaimana konsentrasi dari dua film ini jelas-jelas berbeda. Terlebih, Need For Speed ini di adaptasi dari sebuah game. Berbeda dari Fast & Furious yang merupakan satu film original yang mampu bertahan meskipun sudah mulai diperpanjang tetapi cukup banyak dinantikan.

Need For Speed sebenarnya memiliki satu potensi yang bisa membuat film ini menjadi satu presentasi menarik. Sudah memiliki banyak mobil-mobil mewah yang ditampilkan di film ini. Mulai dari porsche, lamborghini, dan banyak mobil-mobil mewah lain yang akan membuat para pecinta otomotif berdecak kagum. Film ini memiliki satu cerita inti yang singkat seharusnya. Tetapi, bagaimana Scott Waugh membuat film ini malah berputar-putar layaknya ban mobil yang sedang balapan sehingga film ini bertele-tele dan membuat film ini memiliki pace yang tidak teratur.

Bahkan, storyline cerita yang bertele-tele ini pun ternyata malah membuat cerita di film ini semakin tidak terlihat. Berputar-putar di tempat dan masih bingung mau kemana. Well, usaha Scott Waugh di film Need For Speed ini untuk menekankan pada segala adegan car chase dan car race memang sangat terlihat. Sehingga, suara decit ban mobil  yang bergesek dengan aspal jalanan karena kecepatan yang dipacu sangat tinggi ini membuat kuping penontonnya benar-benar tidak nyaman karena terlalu berisik (atau mungkin sound effect suara ban mobil yang berdecit memang terlalu berlebihan). 


Adegan balapan dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun ini bukan malah membuat penontonnya semakin interest dengan filmnya, tetapi malah menjemukan untuk ditonton. Dengan embel-embel adaptasi sebuah permainan virtual, mungkin ada beberapa yang mengingatkan ketika dengan game Need For Speed, tetapi hanya beberapa adegan dari keseluruhan film. Tidak seutuhnya membuat kita merasakan sensasi yang sama saat kita sedang memainkan permainan balapan mobil dari Need For Speed ini.  Sungguh disayangkan.

Butuh beberapa adegan untuk mengembalikan lagi kenyamanan telinga penonton yang sudah dipenuhi oleh suara ban yang berdecit. Memang, ada beberapa bagian yang digunakan untuk memberikan pondasi untuk storyline yang dibangun. Ketika storyline itu berusaha untuk dibangun, tidak upaya yang kuat untuk menguatkan cerita itu. Aksi balas dendam Tobey Marshall pun, terasa sangat hambar. Malah beberapa adegan malah diisikan dengan beberapa adegan kurang penting (hint : “it’s Friday casual”).


Geogre Gatins pun masih memberikan beberapa dialog-dialog dangkal yang membuat filmnya semakin tertatih. Dan dengan arahan Scott Waugh yang masih minim ini pun, beberapa cerita masih belum bisa diangkat. Memberikan porsi untuk mengangkat love interest antara Tobey dengan beberapa wanita di film ini dengan balutan shot cheesy yang mungkin membuat mata penonton akan berputar. Itupun tidak berlangsung lama dan datang dengan begitu tiba-tiba.

Jajaran akting pun masih tidak memiliki kekuatan. Aaron Paul masih kurang memberikan jiwa dan aura kharismatik yang harusnya ada saat dirinya memerankan satu karakter heroik terutama leading character yang punya andil besar untuk film ini. Chemistry-nya dengan Imogen Poots juga terkesan tidak ada. Mereka tidak bisa berkoneksi. Imogen Poots pun masih belum memberikan akting total untuk memberikan ikon femme fatale untuk karakternya.

Maka, Need For Speed hanya menjadi sebuah film yang hanya mementingkan bagaimana mobil bisa melakukan balapan liar dengan kecepatan tinggi. Memberikan satu sensasi suara ban yang berdecit sana-sini yang berisi, serta memberikan sensasi kesenangan menabrakkan mobil mewah dan merusaknya. Film Need For Speed bisa dianggap sebagai film yang dengan tingkat kenarsisan product placement untuk mobil-mobil sport mewah yang diidam-idamkan oleh para pria maskulin.


Overall, Need For Speed menjadi salah satu film adaptasi game yang mungkin akan menyenangkan jika diolah dengan begitu baik lagi. Beberapa potensi menarik seperti adegan balap dan mobil-mobil mewah yang tabrak sana-sini menjadi sia-sia karena cerita yang singkat dijadikan terlalu bertele-tele dan memenuhi durasi. Tunggu saja hasil box office dari Need For Speed, jika berhasil mari lihat film ini akan menjadi satu franchise baru. 
 

Need For Speed dirilis dalam format tiga dimensi dengan hasil konversi. Mungkin untuk memberikan sensasi permainan virtual yang biasa dimainkan. Berikut rekap efek tiga dimensi film ini.

DEPTH 
Tidak ada kedalaman yang begitu signifikan. Hampir tidak terasa malah jika Need For Speed disaksikan dalam format 3D.

POP OUT 
Begitupun dengan efek pop-out yang juga sangat minim. Mungkin beberapa adegan kaca pecah, asap, dedaunan, dan lain-lain. Tetapi itu hanya sedikit dari panjangnya durasi dari film ini.
 
Overall, Need For Speed cukup disaksikan dalam format dua dimensi. Terlebih, bagaimana kecerahan film ini yang akan membuat penonton yang tidak biasa dengan format tiga dimensi akan semakin tidak nyaman. Dengan depth dan pop-out yang tidak terlalu signifikan dan anda masih penasaran dengan film ini, format dua dimensi saja sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar