Jumat, 02 Oktober 2020

THE ONE AND ONLY IVAN (2020) REVIEW: Ada Sudut Pandang Berbeda dengan Hasil yang Masih Sama

Banyak sekali jadwal-jadwal film-film Disney yang harus mengalah karena pandemi. Dari Hamilton hingga Mulan punya nasib sama untuk melenggang cantik ke streaming service milik Disney sendiri. Sebelum Mulan, The One and Only Ivan juga bernasib sama. Film ini sebetulnya sudah direncanakan untuk ditayangkan secara theatrical. Tapi, kondisi tak menentu, membuat film ini harus mengalah.

The One and Only Ivan diangkat dari sebuah buku yang memenangkan award di kategori buku anak-anak. Buku karya K.A. Applegate ini diadaptasi oleh Disney dan mendapatkan Thea Sherrock sebagai pengarah filmnya dan naskah adaptasinya ditulis oleh Mike White. Pengisi suara di film ini juga penuh akan nama-nama besar. Mulai dari Sam Rockwell, Brooklyn Prince, Helen Mirren, hingga Angelina Jolie.

Bukan, ini bukan film animasi. Tapi nama-nama besar di film ini akan mengisi suara untuk sebuah cerita yang digerakkan dari sudut pandang para binatang untuk melihat kehidupan. Salah satunya adalah seekor Gorila bernama Ivan yang ternyata memiliki pandangan lain tentang dirinya dan dunia

The One and Only Ivan tentu diantarkan oleh narasi dari seorang Gorila bernama Ivan (Sam Rockwell). Dia hidup di Big Top Mall dan melakukan pertunjukkan di sana. Tak hanya dirinya, ada beberapa hewan lain seperti Stella (Angelina Jolie), sang Gajah yang juga melakukan pertunjukkan yang sama. Tapi, sang bintang utama di pertunjukan ini tetaplah Ivan. Hingga suatu ketika, kedigdayaan Ivan sebagai bintang yang mahsyur di pertunjukan harus berhenti.

Ivan tak lagi mendatangkan penonton dan menguntungkan sang pemilik pertunjukan. Hingga akhirnya, datanglah seekor bayi Gajah bernama Ruby (Brooklyn Prince). Ruby tentu mudah dekat dengan Stella dengan jenis hewan yang sama. Tetapi, Stella menitipkan pesan kepada Ivan, bahwa Ruby harus tetap berada di tempat yang aman dan layak. Hal ini lah yang akhirnya membuat Ivan mencoba untuk belajar dan membuka dunia baru untuknya.

Ivan mengajarkan hal yang lebih dalam, tapi Disney tetap memegang kendali.

Mau sedalam apa pun cerita yang dimiliki oleh The One and Only Ivan, Disney pasti masih berusaha untuk menemukan jalan tengah agar produk miliknya masih bisa ditonton oleh keluarga. Apalagi dengan materi seperti ini, tentu Disney tak ingin kehilangan penonton anak-anaknya. Sehingga, The One and Only Ivan mungkin terbatas dalam stigmanya sebagai film keluarga yang tak bisa digali terlalu dalam. Takutnya, penonton dengan usia dini tak bisa memahami ceritanya.

Tak salah memang tujuan Disney melakukan hal itu. Mungkin Disney ingin membuat film ini lebih accessible untuk semua kalangan. Toh, Thea Sherrock sebagai sutradara pun berhasil menerjemahkan tujuan dari Disney tersebut. Sebagai sebuah film utuh, The One and Only Ivan bisa menjadi sebuah film keluarga yang menghibur dan menghangatkan hati.

Hal ini muncul tentu karena bagaimana para pengisi suara bisa deliver segala kesenangan hingga keresahan di dalam film ini. Jadi, penonton masih bisa menaruh simpati terhadap setiap karakternya yang notabene bahkan bukan sesama manusia. Bahkan, di beberapa adegan emosional, Thea Sherrock berhasil menyampaikan itu dengan baik. Cuma, kisah Ivan akan jauh lebih menarik lagi bila Mike White dan Disney memutuskan untuk menggali lebih dalam point of view dari karakter utamanya dalam mempelajari hal baru dalam hidupnya.

Keputusan Disney untuk lebih family-friendly jadi ada dampaknya juga, sih.

Ya, gimana penonton akan paham betul dengan segala lika-liku pemikiran Ivan yang harusnya lebih kompleks dari yang ada di layar. Mungkin, penonton juga bisa merasakan gimana rasanya tersesat dalam pemikiran Ivan yang lain. Tapi, Thea Sherrock belum cukup berhasil untuk bisa mengeluarkan potensinya. Yang terjadi, ya penonton pun ikutan tersesat. Bingung dengan apa yang dirasakan oleh Ivan sebagai karakter utama.

Malah, penonton akan lebih relate dengan karakter Ruby di dalam film ini. Bisa jadi, kisah tentang Ruby adalah cara Ivan untuk berkembang menjadi karakter yang lebih baik dan mempelajari hal sekitar. Berdamai dengan trauma dan masa lalu. Tapi, adaptasi ini seperti tak ingin menampilkan cerita itu terlalu dalam. Ya, film ini macam main aplikasi jodoh. Dari luar menarik, tapi pas diajak kenalan lebih dalem, eh masih ada aja yang ditutup-tutupin.

Belum lagi, pesan utama dari The One and Only Ivan pun jadi blur. Apa yang mau disampaikan? Hidup bebas di habitat aslinya? Atau tujuan akhirnya hanya untuk hidup dengan kehidupan yang layak dan mematahkan argumen tentang pertunjukkan hewan?

Penyampaian pesan yang dirasa belum bisa terlihat tegas inilah yang membuat The One and Only Ivan ini ya sekedar tontonan untuk anak-anak yang menghangatkan hati. Padahal, potensi dari adaptasi ini bisa saja lebih dari itu. Tapi, ya mungkin itu tujuan utama Disney mengadaptasi film ini. Untuk bisa mengenalkan literature satu ini dengan segmentasi yang lebih layak. Tonton saja, masih oke kok.

Available at Disney+/Disney+ Hotstar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar