Sabtu, 26 Oktober 2013

REVIEW - ABOUT TIME

Tahun ini, film drama romance sangat jarang di buat. Mungkin Before Midnight sekaligus penutup trilogi Before. Maka dari sutradara film Love Actually, Richard Curtis, film drama romance dengan sedikit imbuhan Science Fiction dengan judul About Time. Film ini pun di rilis seminggu lebih awal di Indonesia ketimbang di US. 


Tim (Domhnall Gleeson) adalah seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga. Dia di beritahu oleh sang ayah (Bill Nighy) bahwa keturunan lelakinya akan memiliki sebuah keistimewaan dimana dia bisa kembali ke waktu sebelumnya. Dia pun mencoba beberapa kali hal tersebut ketika sedang dalam hal yang kurang beruntung terutama masalah wanita.

Dia pun bertemu dengan seorang wanita bernama Mary (Rachel Mc Adams). Dia menaksirnya sampai suatu ketika dia hampir melewatkannya. Tetapi, dia menggunakan kelebihannya itu untuk mendapatkan Mary hingga akhirnya dia menikah. Hingga akhirnya, dia menemukan masalah di dalam keluarganya. Tapi, kelebihan milik Tim tidak bisa menghalangi masalah itu. 

A Sweet time-travel romance movie. 
Richard Curtis, sosok ini sudah berpengalaman dalam menghasilkan film-film dengan tema romance. Meskipun dia hanya pernah menyutradarai di film Love Actually yang sangat saya sukai itu. Tapi, namanya tetap ada di beberapa film-film dengan genre serupa sebagai seorang screenwriter. Contoh film-film yang pernah di tulis olehnya adalah Notting Hill serta Dwilogi Bridget Jones Diary. Tema-tema serupa dengan setting british yang sudah menjadi hook bagi sosok Richard Curtis.

Maka kali ini, dengan bantuan nama-nama seperti Rachel McAdams, Domhnell Gleeson, dan Bill Nighy yang meramaikan film terbarunya yang berjudul About Time. Sebuah drama komedi romantis seperti film-film Richard Curtis lainnya. Tapi ada beberapa hal yang membuat film ini setidaknya berbeda. Unsur science-fiction dan time travel yang digunakan di film ini. About Time pun menjadi salah satu film Romance Comedy yang lovable dalam list saya.

About Time, memang menjalin cerita yang cliche dan sweet seperti kebanyakan film romance biasanya. Tapi, Richard Curtis selalu bisa membangun drama-drama itu dengan baik. Cerita-cerita ringan yang di balut sangat lovable dan unyu. Sehingga menarik untuk di ikuti hingga akhir film ini. About Time pun masih memiliki berbagai kekurangan di balik semua unsur Romance-nya yang berhasil dibangun di film ini. Di awal cerita, beberapa plotnya masih berjalan ke segala arah.


About Time seperti tak tahu bagaimana memulai ceritanya. Terlihat sekali, awal konflik film ini masih berjalan kesana kemari meskipun akhirnya cerita tersebut juga di gunakan ketika konflik lain yang ada di tengah film ini. But to be honest,  konflik itu hanya sebagai cerita sampingan yang tidak seberapa memberikan pengaruh besar kepada film ini. Pace film drama, memanglah sedikit melambat. Tapi, saya sangat menikmati 120 menit milik About Time ini tanpa merasakan kantuk meskipun saya menyaksikan film ini di midnight show

Tapi setelah melewati first act filmnya yang sedikit tidak fokus, maka kita akhirnya diberikan sajian film drama romance yang sangat bisa membuat saya tersenyum. Itulah kekuatan Richard Curtis dalam memberikan treatment kepada filmnya. Dia mampu mempresentasikan sebuah drama romance comedy yang sangat bisa di nikmati. Perjalanan cinta menembus waktu meski tidak senekat Ruby Sparks dalam eksplorasi Science Fiction-nya. Tapi, About Time masih memiliki cerita romance yang fresh bagi saya.


About Time pun masih terlihat malu-malu dalam presentasinya. Mungkin maksud Richard Curtis tidak ingin membuat About Time  menjadi drama romance yang rumit. Tapi, lebih menunjukkan segala romance dan komedinya yang lebih di film ini. Sehingga beberapa penjelasan di film ini mungkin akan menyisakan berbagai plot hole tentang time travelnya yang tersebar di setiap adegannya. Tapi, cerita-cerita itu tak bisa menghalangi setiap momennya yang indah.

Banyak momen-momen indah yang bisa ditangkap oleh Richard Curtis. Sisi Romance antara Tim dan Mary terpancar jelas di layar. Membuat saya terpaku dan menikmati semua jalinan cerita di film ini. Atmosfir-atmosfir indah yang ada di film ini mampu membuat saya memberikan sebuah senyum simpul dari awal film ini hingga akhir film. Entah, senyum itu menyimpul sendiri ketika segala suasana yang mampu di bangun oleh Richard Curtis ini terpancar di setiap adegannya.

   
Not always talked about Romance. This one also has heartwarming father-son drama. 
Bagusnya, film ini pun tak hanya menyajikan drama romance saja. About Time juga masih memiliki drama keluarga tentang hubungan ayah-anak yang tak kalah bagusnya. Sisi sentimentil penonton pun tak di berikan ke cerita romance-nya yang terlalu menye-menye, tapi malah di berikan ke bagian drama father-son relationship yang juga di bangun baik oleh Richard Curtis di film ini. Memberikan suasana hangat bagi film ini.

Maka, About Time bukan menjadi film yang tak hanya cocok di tonton oleh muda-mudi yang berpasangan saja. Tapi juga pas untuk menghabiskan waktu dengan orang yang kita sayang, bukan hanya pacar melainkan keluarga ataupun ayah kita. Dan jika menonton dengan keluarga, pastikan tak ada anggota keluarga yang di bawah umur kala menonton film ini. Karena masih banyak adegan-adegan di luar bagian father-son relationship yang vulgar di dalamnya.

Banyak sekali pelajaran berharga yang kita dapatkan dari film ini. Even we get an ability to travel in time and fix our mistakes and doing something that we like again, but there's a time that we must allowed that moment to let go. Banyak sekali momen-momen indah yang menyentuh di film ini. Membuat kita senyum, tertawa, dan sekaligus sedih. Perasaan yang di campuradukkan di sinilah yang membuat saya begitu menyukai menikmati slow pace dari film About Time ini. 


Pembawaan momen-momen yang indah itu pasti juga tak terjadi jika tak ada cast yang bermain mumpuni di dalam filmnya. Rachel McAdams, tak perlu khawatir dengan performanya jika sudah bermain di dalam sebuah film Romance. Dia memang ratunya. The Notebook, The Vow, serta masih banyak lagi. Wajahnya mampu memberikan pemanis lain di dalam setiap adegannya bahkan di poster film ini. Senyum simpulnya manis sekali.

Belum lagi, dia bisa memberikan chemistry yang kuat dengan lawan mainnya Domhnall Gleeson. Mereka mampu memberikan nyawa terhadap hubungan mereka yang unik. Tom Hughes pun mampu menjadi sosok Tim yang minder saat berada di dekat wanita. Dia mampu mengekspresikan mimik gugup dan suasana nerd yang bagus saat memainkan karakter Tim di film About Time ini. Belum lagi, chemistry bagus lainnya dengan Bill Nighy. Father-son relationship yang di presentasikan begitu baik di film ini.


Technically, gambar-gambar indah mampu ditangkap oleh Director of Photography di film ini. Mampu mengambil momen-momen sweet di film ini. Wedding Ceremony di film ini, tertangkap begitu bagus sehingga saya tertawa gembira kala menyaksikan adegan tersebut. Belum lagi, soundtrack-soundtrack yang menghiasi film ini. Muncul di setiap adegannya dengan tepat. Pemilihan soundtrack yang bagus dan manis semakin menambah nilai plus film ini.


Overall, About Time adalah sebuah film perjalanan cinta dengan bumbu time travel yang di bungkus dengan sangat manis. Meski masih terlihat kurang fokus di awal film, serta masih malu-malu yang menimbulkan plot hole. Tapi, About Time adalah sebuah packaging romance dan drama father-son relationship yang sangat enak untuk di ikuti. My Favorite, My Guilty Pleasure. Lovable.

2 komentar:

  1. Filmnya bagus bgt ..wajib ditonton ...banyak pelajaran berharga yg bisa kita dapetin ..

    BalasHapus
  2. Masih engga ngerti dengan salah satu jalan cerita nya, kenapa pas anak tim yang ke tiga lahir dia ga akan ketemu ayah nya lagi?

    BalasHapus