Senin, 31 Desember 2012

REVIEW - Perahu Kertas 2

Lanjutan kisah Kugy dan Keenan berlanjut ke sesi dua mereka. Perahu Kertas bagian 2 menjadi bagian penutup atau kunci dari satu kesatuan film Perahu Kertas ini. Bagaimana dengan penutup kisah ini? Terajut manis seperti bagian pertama dari film ini? atau hanya penutup yang seharusnya bisa di skip jadi satu dengan film pertamanya?

Tetap menceritakan Kugy dan Keenan, mereka bertemu di acara nikah teman mereka. Kenangan-kenangan masa lalu mereka mulai terajut kembali. Tetapi, mereka sudah mempunyai pasangan masing-masing. Keenan sudah bahagia dengan Luhde. Kugy juga sudah bahagia dengan Remy. Tetapi, perjalanan Kugy ke Bali membuahkan pengalaman yang akan membuka semua kenangan itu. Kugy tak sengaja bertemu dengan Luhde dan Remi mencoba untuk menyatakan komitmennya kepada Kugy. Kugy pada saat itu bingung dengan keadaan ini semua. Dia mencoba untuk menyendiri. Keluar dari kehidupannya. Kugy masih terbayang-bayang dengan Keenan yang sempat mengisi hatinya dulu. Kugy merasa bersalah dengan Remy yang sudah menyatakan komitmennya dengan Kugy. Kenangan-kenangan masa lalu Kugy-Keenan mempersulit keadaan hubungan-hubungan yang saling bersangkutan satu sama lain disini.
Penutup yang bagus? Manis memang, tetapi rasanya bukan penutup yang baik meski juga bukan penutup kisah cinta yang buruk. Perahu Kertas 2 berjalan layaknya ombak tenang di tengah lautan. Sangat tenang. Sedikit tanjakan yang hanya sekali dan besar terjalin di akhir film ini. Tetap melanjutkan kisah mereka berdua. Tetapi tak ada scene pembuka sebagai pengingat memori penonton tentang kisah cinta mereka di bagian pertama film ini. Adegan pembuka langsung menunjukkan potongan lanjutan dari bagian pertama. Seperti sebuah babak baru dari film baru bukan sebagai sebuah lanjutan dari kisah mereka. Beruntunglah, bagian kedua dirilis tak memiliki rentang waktu yang jauh dari bagian pertamanya. Sehingga rajutan kisah kasih mereka masih terbekas setidaknya di pikiran saya. Pace cerita di awal film ini sepertinya sangat berantakan. Terkesan loncat-loncat dari scene satu dengan scene yang lain dengan penceritaan yang begitu cepat. Konflik-konflik di awal film ini memang kurang tergali dengan baik. Latar belakang dan apa tujuan Luhde datang ke Jakarta masih menyimpan sebuah tanda tanya yang besar di benak saya. Lalu dengan konflik yang sebenarnya memberikan sebuah twist yang seharusnya menarik untuk diperhatikan dan dinikmati, rasanya film ini kurang bertenaga dalam menyampaikan twist di dalam film ini. Hasilnya sajian twist yang kering tanpa adanya pengairan deras yang mengaliri konflik cerita ini. Dewi Dee Lestari sebagai penulis skenario rasanya masih perlu belajar lagi bagaimana meracik bumbu yang pas untuk mensajikannya ke dalam bentuk motion picture. Inginnya setia terhadap penceritaan di dalam novelnya tetapi rasanya tak perlu. Yang saya kira di bagian kedua bakal banyak kejadian-kejadian yang lebih bisa dinikmati terlebih bagian kedua ini tak perlu ditambahi dengan pengenalan-pengenalan tokoh lagi, ternyata hanya berisikan sebuah cerita kosong dan tambahan-tambahan scene untuk memadati durasi. Ternyata terlalu setia dengan novel juga ada minusnya. Penceritaan yang begitu bertele-tele malah membuat penonton yang bukan pembaca novelnya merasa kebosanan. Rasanya keputusan untuk membagi film ini menjadi dua bagian bukan keputusan yang bijaksana. Jangan salahkan jika sebuah film adaptasi novel ada yang sedikit diringkas. Tak terlalu setia. Tetapi juga tak terlalu mengingkari novel tersebut. Film ini masih bisa diringkas jadi satu film saja ketimbang dijadikan dua jilid.
 
Rasanya saya terlalu memojokkan hasil film ini. Beruntunglah film ini masih setidaknya mempunyai beberapa nilai plus yang ternyata juga sebagai penyelamat dari film ini. Tatanan sinematografi arahan Faozan Rizal yang ternyata masih menatanya dengan epik. Masih bisa memberikan sudut-sudut dari film ini yang indah dan menentramkan hati. Musik arahan Andhika Triyadi juga masih bisa membuat film ini menawan dan bisa mendukung jalinan kisah kasih Kugy-Keenan yang setidaknya sedikit indah. Meski terkadang kemunculan musik di film ini agak sedikit salah tempat. Para aktor dan aktris yang juga menyelamatkan film ini. Akting mereka kuat. Maudy Ayunda juga bisa menjalin chemistry yang bagus dengan aktor-aktor pendukungnya. Reza Rahardian adalah aktor aset Indonesia yang patut di acungi jempol dan juga sebagai kiblat aktor Indonesia lainnya. Akting dia sangat brilliant, kuat, dia seperti menjalani kehidupannya sendiri. Adipati Dolken pun juga melaksanakan tugasnya dengan baik meskipun saya amat terganggu dengan rambut panjangnya yang lusuh itu. Elyza Mulachela sebagai Luhde pun sebagai pendatang baru dia juga memiliki kekuatannya sendiri. Kerealistisan cerita disini juga penyelamat film ini sebenarnya. Seperti Remy dan Kugy yang sebagai pasangan kekasih dan juga atasan dan bawahan juga menunjukkan sikap yang lebih masuk akal. Profesionalisme dalam pekerjaan juga harus tetap di nomorsatukan. Tak seperti cerita-cerita di kisah cinta yang bermasalahkan sama. Para atasan akan lebih memilih untuk membenarkan kekasihnya ketimbang profesionalitasnya. Ini adalah karya milik Hanung Bramantyo yang paling lemah menurut saya. Meski film ini masih belum bisa dikategorikan film Indonesia yang buruk. Tetapi film ini juga masih kurang bisa memberikan nilai plus yang lebih dalam dalam genre drama romantis milik Indonesia. Tetapi nilai minus disini juga masih ada beberapa yang masih bisa dimaafkan sebenarnya. 
Terlepas dari itu, Overall film Perahu Kertas 2 ini masih bisa menjadi tontonan cinta yang manis meskipun tak seberapa memiliki cerita yang kuat di bagian keduanya. Maaf, bagian kedua ini menurut saya jauh kualitasnya ketimbang yang pertama. Jadi tidak masuk Film Drama Cinta Remaja favorit saya tahun ini. 

2 komentar:

  1. baca novel.nya gan,..
    dijamin paham tiap detil yang terlewat dan bingung ..

    gak rugi Dee ngbangkitin cerita yang udah lebih 10 tahun di.simpan ..
    11 tahun kalo gak salah ..ato malah 13 tahun ..LUPA .
    wkwkwkwkwk ..

    just my opinion ..

    BalasHapus
  2. udah pernah nyoba baca novelnya sih. cuma gak kelar2 jadi gak diterusin.
    menurut saya cerita yang ditawarin film dwilogi perahu kertas udah bagus. cuma novel dan film adalah media yang berbeda. Jadi gak semua kata-kata novel bisa dipresentasikan langsung ke sebuah motion picture. jadi menurut saya di pisah jadi dua kurang bijaksana. diskip jadi satu dan mengurangi beberapa cerita yang tidak mengurangi esensi cerita sih gak masalah biar lebih padat.

    thank you for your opinion yah :)

    BalasHapus