Minggu, 08 Maret 2015

FOCUS (2015) REVIEW : They Losin’ it Focus.


Melakukan pekerjaan penuh trik atau tipuan akan sangat riskan jika trik tersebut sudah basi. Begitu pun di dalam sebuah film, trik atau tipuan akan menjadi sebuah premis yang menyenangkan dengan dukungan packaging yang baik. Glenn Ficarra dan John Requa mencoba menggunakan trik dan tipuan dalam mencuri sebagai dasar cerita di film terbarunya berjudul, Focus. Dengan Will Smith dan Margot Robbie yang digunakan sebagai pelakon utamanya.

Tak seperti judulnya –Focus –film garapan duo sutradara yang menangani Crazy, Stupid, Love dan I Love You Philip Morris ini pun menjadi sebuah ironi. Film terbarunya ini malah kehilangan satu poin yaitu fokus, fokus dalam menangani plot cerita yang digunakan, plot cerita dasar untuk menggerakkan subplot lainnya. Dan pada akhirnya, Focus ini malah terdistraksi oleh subplot-subplot kecil yang terkesan episodik di setiap babak filmnya.  


Toh, plot dari Focus ini sebenarnya menceritakan bagaimana Jess (Margot Robbie), wanita yang ternyata doyan melakukan pekerjaan kriminal yaitu mencuri. Saat di sebuah bar, dia bertemu dengan Nicky (Will Smith) yang ternyata seorang pencuri yang sudah memiliki kredibilitas yang tinggi. Jess yang tergila-gila dengan uang pun mencoba untuk masuk ke dalam dunia milik Nicky yang penuh trik. Jess pun melakukan segala cara untuk lolos tes yang dilakukan oleh Nicky.

Jess pun berhasil masuk ke dalam dunia milik Nicky dan melakukan banyak sekali misi untuk mencuri beberapa barang dari seseorang. Jess pun semakin mahir dan berkembang sangat banyak karena Nicky dan mengajaknya ke sebuah pertandingan American Football terbesar. Di sana lah, Nicky dan Jess melaksanakan misi besar mereka, mencari mangsa-mangsa baru yang lebih besar dan lebih ber-uang di acara ini. 


Ketika big point itu berlangsung cukup menarik di babak awal film ini, lambat laun film ini semakin melemah. Tak menunjukkan premis menariknya lagi untuk menggerakkan subplot-nya, tetapi malah subplot itu yang menggerakkan cerita secara keseluruhan. Maksud untuk menambah intrik cerita, konflik love interest antara Jess dan Nicky pun menjadi satu kelemahan yang tampil sangat menonjol di dalam film ini.

Focus pun akhirnya banting setir menjadi film romance dengan bumbu kriminal, bukan sebaliknya. Karena subplot love interest itu menjadi sangat mendominasi cerita dan tidak mempedulikan premis utama dari film Focus. Boleh lah ada bumbu romance tapi jangan sampai melupakan kulit utama film yang mau ditampilkan. Film pun terasa terbabak dengan subplot yang berbeda di setiap babaknya. Dan akhirnya semakin menuju akhir, Focus menampilkan performa yang sangat lemah dan berantakan.

Subplot love interest yang masih menjadi borok utama film ini dan tak coba untuk ditutupi, ternyata diperbesar lewat subplot masa lalu Nicky yang bermaksud menambah twist and turn untuk mewakili premis utama yaitu trik atau tipuannya, tetapi malah semuanya terjadi sangat tiba-tiba dan sangat berantakan. Focus benar-benar kehilangan kefokusannya, Glenn Ficarra dan John Requa benar-benar lepas kendali dalam mengolah Focus menjadi sajian yang rumit tapi menyenangkan. 


Beruntunglah, penampilan manis dan menggoda dari Margot Robbie masih bisa membuat penontonnya (khususnya penonton lelaki) senang menonton film ini. Will Smith masih tampil dengan porsinya yang pas, masih memberikan chemistry yang apik dengan lawan mainnya. Meskipun, Will Smith masih kalah scene-stealer dari Adrian Martinez yang berhasil membuat film ini masih memiliki unsur komedi yang bisa dinikmati. 

Maka, Focus adalah sebuah ironi yang tragis dari judul dan tagline filmnya. Film arahan Glenn Ficarra dan John Requa ini malah kehilangan satu poin yaitu fokus dalam menjalankan ceritanya. Subplot-subplot kecil yang mendominasi dan melupakan satu premis utama film ini menjadikan Focus semakin melemah di setiap menitnya. Juga, Focus akan terasa  sangat episodik di setiap babak dengan subplot yang berbeda. But, it has Margot Robbie and Adrian Martinez as a weapon.
 

2 komentar: